sampling kita lakukan untuk mendapatkan apusan nasofaring, dengan cara memasukkan lidi kapas, dengan kawat lentur sekali, melewati rongga hidung. terasa hanya geli-geli sedikit, seperti memasukkan cutton bud ke telinga..
tidak sakit sama sekali, tapi efeknya setelah dimasukkan lidi kapas ini jadi terasa wahing sebentar..
tapi, setelah itu akan dapat tali kasih dari kami, paket maknan dan mandi..
banyak karakteristik manusia yang kami jumpai, mulai dari masyarakat yang dengan pandainya menasehati kami hingga masyarakat yang mau diperiksa hanya karena mendapat paket dari kami. Bahkan saking pinginnya beberapa ada ayng mengaku-ngaku sehat, padahal sedang batuk pilek. subjek yang kita cari adalah masyarakat yang dalam keadaan sehat, tidak sedang batuk n pilek. terkadang kami kecolongan, sudah diambil apusan nasofaringnya, baru terdeteksi kalau sample mengalami pilek.
biasanya yang melakukan swab nasofaring dosen kami dan juga seorang dokter yang ikut penelitian kami juga. kami pun pernah melakukannya, tapi cuma sekali dua kali saja. dulu, bahkan kami yang merasakan sendiri dimasukkan kapas dengan kawat lentur ini, rasanya geli..tapi tidak sakit..
kami sendiri, para mahasiswanya, lebih banyak berperan dalam mengisi kuesioner, kami menanyakan beberpaa pertanyaan yang dirasakan ikut mempengaruhi pola kolonisasi kuman pada nasofaring orang sehat. ada beberapa pertanyaan yang membutuhkan trik2 khusus saat menanyakannya karena terkadang masyarakat lupa dan tidak sadar bahkan tidak mengetahuinya, jadi kita harus pintar2 mengarahkannya. awalnya untuk kueisoner ini kami belajar dulu step2 menanyakannya. awalnya kami tidak luwes saat bertanya, kaku, tapi semakin lama kami semakin lihai dan lebih cepat dalam bertanya.
asiknya saat menanyakan kuesioner adalah terkadang kami dianggap dokter dan mereka suka nyolong konsultasi ke kita tentang penyakitnya, kalau bisa kami jawab, tapi kalau tidak terkadang kami tanyakan ke dokter2 yang ada di situ. saat mengisi kuesioner ini juga tantangan kami jika ternyata orang tua tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia, benar-benar kewalahan saat saya menghadapi orang tua seperti ini. pernah, ada penerjemah yang membantu saya saat bertanya..
satu hal yang tidak maju2 ilimu saya.. yaitu memahami bahasa jawa.. berkali-kali menghadapi orang jawa yang sering menggunakan bahasa jawa, tapi saya tetap saja tidak lihai memakainya, hehe..