Wednesday, August 10, 2011

...Bunga Tegar...

"Tetaplah tegar menatap mentari, hingga sang malam datang, membawamu kembali kepangkuan sang bunda.."


*adakah yang tahu teman, bunga apakah ini? saya mencarinya di google tapi tidak berhasil menemukan namanya, karena saya sendiri bingung bagaimana mencarinya, selain dengan mengetik keyword, 'bunga'. Ini adalah bunga yang ada di taman kecil ibuku. Hanya sendiri, bagai ilalang yang tumbuh menjalar, mekar dengan indahnya, namun ketika malam menjelang dia menguncup. Jadi, saya  namai bunga tegar dulu saja ya.. :)

Sunday, August 7, 2011

Es Tipis


Description:
Cocok untuk berbuka. Rasa asem jeruk nipis dan manis gula pasir yang beradu ditambah parutan timun yang krenyes-krenyes segeeer..



Ingredients:
1. Timun
2. Jeruk nipis
3. Gula pasir
4. Air putih
5. Es batu

Directions:
1. Parut timun dengan parutan keju
2. Peras jeruk nipis dan tambahkan air
3. Rebus gula pasir dengan air secukupnya
4. Campur timun parut dengan air jeruk nipis dan air gula.
5. Tambahkan es batu

Tak Ada yang Menandinginya: Tahu Gejrot Cirebon

Kamu tau tahu gejrot?


Tahu Gejrot merupakan makanan khas Cirebon. Tahu yang khas diberi kuah gula jawa yang khas juga disertai ulekan cabe rawit dan bawang merah, disajikan dipiring hitam dari tanah liat. Harganya kisaran Rp 3000,00 biasanya dapet 10 tahu.

Rasanya sangat unik, tapi tidak bisa dipukul rata dijamin semua lidah bisa menerima panganan ini. Ternyata, teman saya yang asli Cirebon saja tidak menyukainya. Tapi, ini makanan rakyat yang lezat dan patut untuk dicicipi jika menginjakkan kaki di Cirebon. Lebih asoy lagi, kalo makannya di wadahnya yang khas dari tanah liat itu. Oia, yang jualan juga khas, yaitu menggunakan bakul yang dijinjing di bahu sambil berjalan.


Saat ini, tahu gejrot udah merajalela ternyata, di Semarang udah  kek jamur aja. Banyak kujumpai tahu gejrot di pinggir-pinggir jalan. Aku yang sangat menyukai makanan ini, pastinya ikut mencicipinya. Tapi, eh tapi.. rasanya mengecewakan. Tak ada yang tahunya sama persis seperti yang saya makan di Cirebon. Tak ada juga yang kuahnya berasa sama dengan yang saya makan di Cirebon. Hehe. Rasa tahu gejrot yang khas itu udah nempel di lidah ini, jadi tak bisa dibohongi, hehe..

Setiap ada kesempatan pulang, rasanya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi panganan khas Cirebon ini. Hm.. Nyummmmii..






Thursday, August 4, 2011

Rejeki berbuka.. :)

Hadiah dari Peluh Keringatku

Terkadang saya suka diminta bantuan teman-teman untuk mentranslet jurnal-jurnal dari para residen. Saya tidak pintar bahasa inggris, justru ini sebenarnya melatih kemampuan bahasa inggris saya. Enaknya lagi, ada fee translet per lembarnya. Kalau lagi di stase kecil dan tidak sedang ujian, saya baru mau nerima. Kalau tidak. Hm.. jangan harap. Lagi dalam keadaan santai pun saya suka malas sendiri disuruh translet jurnal. Paling-paling saya pun hanya mengerjakan 2-3 lembar jurnal saja dan itu pun setelah ditranslet dengan font yang telah disesuaikan dapetnya paling berapa lembar saja. Tapi, itu lumayan, jadi tambahan uang buat senang-senang. *loh? Hihi..

Pernah, sekali-kalinya saya nerima transelatan yang jumlahnya lumayan banyak, 2 bab buku. Setelah ditranslet, hasilnya berlembar-lembar, jadinya saya dapet fee buesaar deh. Yap, karena belum kerja dan belum pernah dapet uang dari hasil jerih payah sendiri, menurutku segitu adalah uang yang besar. Hehe. Ntahlah, rasanya bahagia aja bisa dapet uang dari usaha sendiri gitu.

Selama ini, selain dari jurnal-jurnal itu, saya juga pernah dapet uang sendiri dari jaga klinik suatu lembaga sosial. Bukan menjadi dokter tentunya, hanya sebagai tenaga perawat atau bisa dibilang tenaga farmasinya. Dari situ  juga lumayan fee nya, bisa buat makan sehari.

Semuanya itu saya lakukan serabutan. Yap, bukan pekerjaan yang rutin dan sering saya lakukan. Dan
fee yang didapat itu melainkan hanya sebagai side effect nya saja karena tujuan utama saya sebenarnya bukan itu saat ini. Cari pengalaman dan belajar. Dengan mentranslet jurnal, saya bisa sambil belajar bahasa inggris sekaligus mempelajari konten yang ada di dalam jurnal. Kemudian dengan meluangkan waktu untuk jaga klinik, saya jadi belajar dan menambah pengalaman melihat pasien.

Tidak seberapa memang, tapi berharga. Hehe.


Daaaan.. kemarin baru nranslet jurnal yang fee nya pun tak seberapa. Tadinya, ingin aku belikan buku, seperti biasanya. Tapi, sekarang, saya pengen beliin sesuatu buat ponakan, kebetulan abis melihat baju sweater yang cantik banget, jadi langsung aku beliin deh.

Ini dari anti buat Fakhira, semoga muat ya di Fakhira.. :)



Jadi Belajar Kalo Ujian

Kalimat itu.. memiliki banyak arti untukku..

Pertama, ya.. kalo g ujian saya jadi ga ngebaca buku-buku textbook maupun buku kuliah deh. Buku-buku yang sudah menumpuk dan kubeli dengan semangat karena keingintauanku yang besar, tapi tidak ditunjang dengan tingkat kerajinanku yang tinggi. Jadi lah, terserak sekedar terserak di lantai.

Nah, saat ujian akan datang, mulai terdengar geruduknya, mulai terasa hawanya, mulai tersadar ragaku, panik deh yang ada. Beluuuuum bacaaaaaa!! Akhirnya, waktu yang mepet semepet-mepetnya dipakai buat mempelajari segala penyakit yang ada di masing-masing setiap stase dan apa yang terjadi? Selembar demi selembar dibuka, daftar isi yang pertama dicari. Membaca dari atas sampai bawah dengan jeli. Memilah-milah..

“Yang ini.. lewat... yang ini.. hm.. paling jarang keluar.. kalo yang ini.. ah paling juga gda pasiennya. Ini aja ni, sering banget ni dikeluarin dan dibahas..”

Baru deh, buka halamannya dan mulai membacanya. Setelah beberapa menit, waktu semakin mendekati. Hati kembali galau. Mempercepat membaca, ntah ngerti ntah tidak, yang pasti bisa selesai dibaca. Kembali ke daftar isi, pilah-pilah lagi, terus.. terus.. pergolakan batin terjadi, seperti yang sudah-sudah..

“Yang ini.. lewat... yang ini.. hm.. paling jarang keluar.. kalo yang ini.. ah bukan kompetensinya.. yang ini.. jarang paling pasiennya, selama ini tidak nemu.. Nah.. ini aja ni, sering banget ni dikeluarin dan dibahas..”

Kemudian, kembali ku buka.. dan kembali terjadi pergolakan batin setelahnya. Bagitu seterusnya dan seterusnya. Sampai akhirnya, mengambil jalan dengan hanya menghafalkan lembaran-lembaran fotocopian teman-teman yang telah rajin meringkas materi-materi dari buku kuliah tersebut. Ntah buku mana yang jadi sumber. Begitu banyak fotocopian ringkasan yang dibuat dengan isi yang kadangkala berbeda, fotocopian ini bilang dosisnya sekian, fotocopian yang itu bilangnya dosisnya segitu. Nah, mana yang benar? Sesat.. sesat bersama kita. Kalau sempat, disempatin buka buku aslinya, mencari kebenaran fotocopian-fotocopian itu. Kalo rajin si buat ringkesan sendiri, walaupun kenyataannya moment langka 'ima rajin'. Hihi..

Yah.. kalau tidak ujian saya tidak belajar jadinya. Tidak membaca buku-buku textbook itu. Hanya berbekal dari tentiran dan diskusi yang telah berjalan sebelumnya, yang semestinya tidak sekomplit buku-buku kuliah. Tapi, saya memang tipe yang ditentirin baru ngerti ketimbang baca sendiri. Hehe..

Kedua,
Kalau ujian pasien itu kan sama supervisor langsung. Tentunya mereka itu lebih banyak ilmu dan pengalamannya dari residen apalagi koas-koas kek kita ini. Saat ujian pasien dengan supervisor itu adalah suatu moment untuk membuka ilmunya mereka. Begitu banyak pertanyaan yang pada akhirnya membuat kita terbengong-bengong, pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terkuak dalam pembelajaran sehari-harinya kita. Pertanyaan-pertanyaan yang harus digarisbawahi dan perlu diperhatikan. Ntah kenapa, keluar aja dari bibir sang supervisor tersebut. Yah.. ilmu dan pengalaman mereka memang luar biasa. Bahkan pertanyaan tersebut kadang tak sempat terkuak saat beliau mengisi kuliah sekalipun. Karena setiap pasien itu berbeda dan membutuhkan perhatian yang berbeda pula. Apalagi kalau ujiannya sama supervisor yang senang menentir dan berhati emas dalam memberi nilai, hwaaa.. Jadi berasa tentiran bukan ujian itu mah. Hehe.

Selalu saja belajar banyak tentang hal-hal yang baru setiap kali saya ujian. Selalu saja ada ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan setiap kali ujian. Walaupun ujian pasti membuat saya seperti orang bodoh yang sangat dangkal ilmunya. Hwaaa.. ternyata butuh kesabaran dalam belajar itu. Semangat terus!!

Tuesday, August 2, 2011

Puasa Pertama

Bismillah..

Puasa pertama, aku ditemenin lo kali ini. Ditemenin sama temenku, dia nginep gara-gara Senin kita ujian. Sahur pertama jadi ada yang nemenin. Padahal itu adalah puasa pertama di Romadhon pertama bareng suaminya. Aku kaget aja dia mau nginep, kan aneh sekali, tapi sudah bisa ditebak, suaminya lagi jaga soalnya. Cari pelarian deh aku. Sudah biasa, aku memang cuma dijadikan pelarian. *loh? haha..

Jadi inget puasa pertama tahun lalu. Aku masih suka masak-masak sendiri, jadi berkesan. Tapi, sekarang, boro-boro ni.