Ini adalah kumpulan tulisan yang hanya untuk dikenang.. sebuah migrasi dari http://www.imadr.multiply.com
Monday, February 28, 2011
Friday, February 25, 2011
Sunday, February 20, 2011
Ilmu Dari Ujian
Ini dia, beberapa ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan saat ujian. Benar juga kata ibunya, kalau kita biasanya baru paham, emang saat ujian. Karena baru tau, yang ditanyain itu apa aja. Sewaktu di Jiwa juga seperti itu, saya baru ebnar-benar paham, saat ujian itu. Waktu dulu masih kuliah apa lagi, saat ujian itu, saya baru sedikit ngeh maksudnya. Tapi, saat ujian itu, saya jadi merasa tidak tau apa-apa. Hoho.. Kalau kata ayah, yang penting kita bisa belajar dan jadi tau setelah itu. Yup..yup..makanya sekarang saya tulis, ilmu-ilmu baru bagi saya pribadi..
Pertama ibunya tanya, “kamu tau artinya ileus?” spontan kami menjawab, “usus” beliau langsung menggeleng-geleng, lalu memberitahu kami, “ileus itu asal kata dari ileos, artinya nyeri perut.”
Pertama ibunya tanya, “kamu tau artinya ileus?” spontan kami menjawab, “usus” beliau langsung menggeleng-geleng, lalu memberitahu kami, “ileus itu asal kata dari ileos, artinya nyeri perut.”
“kamu tau kenapa ada tanda coil spring? Patofisiologinya bagaimana?”
Jawaban kami rata-rata sama, “adanya obstruksi usus membuat usus berdilatasi, usus terisi udara, sehingga dindingnya semakin jelas memberikan gambaran dari plika sirkularisnya.”
Dan beliau.. menggeleng-geleng, lalu memberitahukan yang benar, “obstruksi usus itu membuat usus terus berkontraksi tapi adanya obstruksi, membuat semakin kencang sebagai kompensasi, akhirnya usus distensi, dindingnya kemudian mengalami penebalan akibat udem sehingga gambaran plika semakin terlihat jelas, kemudian udemnya juga mengeluarkan cairan, sehingga udara usus yang berlebih akibat tidak terserap pun bersama dengan cairan usus tersebut memberikan gambaran air fluid level pada foto LLD.” Kurang lebih si seperti itu yang saya tangkap.
Lalu ada gambaran dislokasi sendi bahu (red: artikulatio glenohumeri) kanan. Kami mencoba mendeskripsikannya dan menjawab dislokasi sendi bahu kanan. Tapi, beliau tetap geleng-geleng, lalu bertanya, “sudah? Cukup hanya menjawab dislokasi sendi glenohumeri kanan saja?” kami terdiam. “coba kalian lihat, arah panah sebelah marker itu menandakan apa?” ngeeek.. apakah itu? Selama ini kami tidak pernah melihatnya, lalu, beliau menerangkan, “itu tanda pasiennya dengan posisi abduksi dan adduksi” kata beliau, tidak perlu lagi dengan foto lateralnya kalau seperti itu. Lalu kami, ditanya lagi, “itu dislokasinya tipe yang mana?” haduu.. seriusan saya tidak belajar segitunya, macam-macam dislokasi sendi bahu, apaan itu. Lalu ibunya berkata lagi, “ke arah mana?” hooo... kujawab, “anterior” memang tampak sekali itu terjadi pergeseran ke anterior, dan beliau tetap tidak puas kemudian melanjutkan bertanya, “tau dari mana?” ngeeekk, makin pusing saya. Saya pun terdiam. Dan beliau kemudian melanjutkan, “dilihat dong, kalau caput humerinya lebih ke bawah, berarti itu dislokasi ke anterior, sedangkan kalau caputnya lebih ke atas itu berarti dislokasi ke posterior.” Hwaa..ilmu baru lagi.
“sekarang, coba sebutkan fraktur-fraktur khusus, fraktur boxer apa?” dengan lancar kami menjawab, “fraktur pada metacarpal V” beliau puas sepertinya, tapi itu tidak cukup untuk beliau, pertanyaan berikutnya, “fraktur colles?” dengan lancar kami pun menjawab, “fraktur basis radii disertai dengan angulasi ke posterior.” Ternyata itu kurang memuaskan beliau, “apanya yang angulasi?” , dengan dudul saya jawab, “tulang radiusnya”, ibunya senyum-seyum, “iya, tapi bagian apanya?” oh..baru ngeh.. “fragmen distalnya” tetep, itu belum cukup, “udah itu aja? Fraktur colles cuma itu?” wedeh.. apalagi? kita bingung, terus kita diem deh. Seperti biasa ibunya menambahkan, “fraktur colles kan banyak variannya. Coba dicari.. ” hihi.. parah banget ya kita, kompakan bener ga tau nya. Tapi, berdasarkan buku yang kita baca memang g nyebut-nyebut variannya, jadi kita g tau deh.
Udah gitu, masih seputar fraktur, ada fraktur collum femoris. Padaha kita udah ngasih kesan yang kupikir udah cukup, ternyata menurut ibunya itu masih kurang. Karena menurut beliau, fraktur collum femoris itu ada bagian-bagiannya lagi. “ini bagian mananya collum?” Kita bingung, ngek ngok, collum kan bagiannya tulang femur, ini mau dibagi lagi, apaan coba? Saya mengingat bagian-bagiannya. Intertrochanter kah? Sepertinya itu masih di collum. Argh.. bingung. Terus, aku cuma bisa bilang, “distal collum femur.” Ternyata masih kurang tepat, “iya, apa namanya? Kan ada nama-namanya, cervical, intertrochanter, dsb. coba kalian cari lagi ya.” Huduuuu. Dari buku-buku yang kucari (bukan textbook radiologi si pastinya), gda yang nyebutin gitu, buka atlas anatomi, juga g nyebutin bagian-bagian collum femur sedetil itu lagi. Haduuu.. Akhirnya, kami tanyakan ke residen,ternyata kata beliau ada, tapi dia juga nyuruh kita buat nyari-nyari sendiri. Bingung kan, buku apa yang harus dibaca? Hehe..
Terus lagi, kami ditanya, saat membaca CT Scan kepala. Di kiri atas kan ada satu kotak yang gambarnya kepala, dengan garis-garis tempat potongannya kan ya. Nah, ibunya nanya ke kita, “kalian tau ini apa?” kita mentok-mentok cuma bisa bilang, “markernya bu, untuk tau tempat potongannya.” Beliau senyum, kemudia berkata, “iya, namanya apa? Kalau kalian tidak tau bilang aja tidak tau.” Kompakan kita semua bilang, “tidak tau dokter.” Lalu beliau, memberitahu, “ini namanya scanogram, diinget-inget ya. Ntar di bedah saraf kamu bisa ditanyain loh. Kalau MRI medula spinalis markernya itu namanya MR Myelogram. Kalian udah pernah ngeliat MRI? Di sini memang gda si, tapi setidaknya kalian bisa lah ngebedain dengan CT, coba saya tunjukkin.” Lalu, kami dicariin gambar MRI, dan ibunya hanya menjelaskan, kalau MRI, makenya intensitas, kalau CT makenya densitas. MRI itu membuat tulangnya berwarna hitam, dan parenkim otanya justru terlihat lebih jelas. Inilah mengapa, kalo mau lihat jaringan lunak, memang imaging pilihan yang paling bagus MRI. Sedangkan kalo tulang, CT tetap pilihan utamanya.
Selain itu juga, dikasih tau banyak hal yentang ilmu-ilmu yang canggih lainnya di radiologi, ini si seputar pengetahuan kita saja, bukan kompetensi kita sebenarnya, tpai penting diketahui dokter umum, biar kalau mau ngerujuk ataupun memberikan alternatif terapi jadi tau. Kalau kata beliau si, “radiologi itu sebenarnya banyak tindakan-tindakan yang maco nya kok, yang cocok buat laki-laki juga. Sering ikut tindakan bedah juga. Tapi ya itu dibelakang layar jadi tidak terlihat. Kaya tindakan arteriografi, itu kan juga butuh keterampilan.” Haha, gara-gara residen banyaknya perempuan kali ya, ibunya jadi promosi juga. Beliau, menanyakan tentang TACE. Pastinya, kita gda yang tau, dan beliau kecewa. Katanya, gagal promosi kalau begitu. Jadi, TACE ini singkatan dari Trans Arterial Chemo Embolization, salah satu metode untuk menghilangkan/mengecilkan tumor. Jadi, dengan embolisasi yang terjadi itu, mengakibatkan aliran darah ke tumornya itu terhambat, sehingga pertumbuhan tumor menjadi terhambat, dan juga ditambah pemberian chemoterapi untuk tumornya. Kurang lebihnya begitu yang beliau jelaskan secara singkat. Ada juga TACI (Trans Arterial Chemo Infusion) masukin chemoterapinya lewat infus. Gimana penjelasannya aku juga bingung, g dijelaskan waktu itu.
Jawaban kami rata-rata sama, “adanya obstruksi usus membuat usus berdilatasi, usus terisi udara, sehingga dindingnya semakin jelas memberikan gambaran dari plika sirkularisnya.”
Dan beliau.. menggeleng-geleng, lalu memberitahukan yang benar, “obstruksi usus itu membuat usus terus berkontraksi tapi adanya obstruksi, membuat semakin kencang sebagai kompensasi, akhirnya usus distensi, dindingnya kemudian mengalami penebalan akibat udem sehingga gambaran plika semakin terlihat jelas, kemudian udemnya juga mengeluarkan cairan, sehingga udara usus yang berlebih akibat tidak terserap pun bersama dengan cairan usus tersebut memberikan gambaran air fluid level pada foto LLD.” Kurang lebih si seperti itu yang saya tangkap.
Lalu ada gambaran dislokasi sendi bahu (red: artikulatio glenohumeri) kanan. Kami mencoba mendeskripsikannya dan menjawab dislokasi sendi bahu kanan. Tapi, beliau tetap geleng-geleng, lalu bertanya, “sudah? Cukup hanya menjawab dislokasi sendi glenohumeri kanan saja?” kami terdiam. “coba kalian lihat, arah panah sebelah marker itu menandakan apa?” ngeeek.. apakah itu? Selama ini kami tidak pernah melihatnya, lalu, beliau menerangkan, “itu tanda pasiennya dengan posisi abduksi dan adduksi” kata beliau, tidak perlu lagi dengan foto lateralnya kalau seperti itu. Lalu kami, ditanya lagi, “itu dislokasinya tipe yang mana?” haduu.. seriusan saya tidak belajar segitunya, macam-macam dislokasi sendi bahu, apaan itu. Lalu ibunya berkata lagi, “ke arah mana?” hooo... kujawab, “anterior” memang tampak sekali itu terjadi pergeseran ke anterior, dan beliau tetap tidak puas kemudian melanjutkan bertanya, “tau dari mana?” ngeeekk, makin pusing saya. Saya pun terdiam. Dan beliau kemudian melanjutkan, “dilihat dong, kalau caput humerinya lebih ke bawah, berarti itu dislokasi ke anterior, sedangkan kalau caputnya lebih ke atas itu berarti dislokasi ke posterior.” Hwaa..ilmu baru lagi.
“sekarang, coba sebutkan fraktur-fraktur khusus, fraktur boxer apa?” dengan lancar kami menjawab, “fraktur pada metacarpal V” beliau puas sepertinya, tapi itu tidak cukup untuk beliau, pertanyaan berikutnya, “fraktur colles?” dengan lancar kami pun menjawab, “fraktur basis radii disertai dengan angulasi ke posterior.” Ternyata itu kurang memuaskan beliau, “apanya yang angulasi?” , dengan dudul saya jawab, “tulang radiusnya”, ibunya senyum-seyum, “iya, tapi bagian apanya?” oh..baru ngeh.. “fragmen distalnya” tetep, itu belum cukup, “udah itu aja? Fraktur colles cuma itu?” wedeh.. apalagi? kita bingung, terus kita diem deh. Seperti biasa ibunya menambahkan, “fraktur colles kan banyak variannya. Coba dicari.. ” hihi.. parah banget ya kita, kompakan bener ga tau nya. Tapi, berdasarkan buku yang kita baca memang g nyebut-nyebut variannya, jadi kita g tau deh.
Udah gitu, masih seputar fraktur, ada fraktur collum femoris. Padaha kita udah ngasih kesan yang kupikir udah cukup, ternyata menurut ibunya itu masih kurang. Karena menurut beliau, fraktur collum femoris itu ada bagian-bagiannya lagi. “ini bagian mananya collum?” Kita bingung, ngek ngok, collum kan bagiannya tulang femur, ini mau dibagi lagi, apaan coba? Saya mengingat bagian-bagiannya. Intertrochanter kah? Sepertinya itu masih di collum. Argh.. bingung. Terus, aku cuma bisa bilang, “distal collum femur.” Ternyata masih kurang tepat, “iya, apa namanya? Kan ada nama-namanya, cervical, intertrochanter, dsb. coba kalian cari lagi ya.” Huduuuu. Dari buku-buku yang kucari (bukan textbook radiologi si pastinya), gda yang nyebutin gitu, buka atlas anatomi, juga g nyebutin bagian-bagian collum femur sedetil itu lagi. Haduuu.. Akhirnya, kami tanyakan ke residen,ternyata kata beliau ada, tapi dia juga nyuruh kita buat nyari-nyari sendiri. Bingung kan, buku apa yang harus dibaca? Hehe..
Terus lagi, kami ditanya, saat membaca CT Scan kepala. Di kiri atas kan ada satu kotak yang gambarnya kepala, dengan garis-garis tempat potongannya kan ya. Nah, ibunya nanya ke kita, “kalian tau ini apa?” kita mentok-mentok cuma bisa bilang, “markernya bu, untuk tau tempat potongannya.” Beliau senyum, kemudia berkata, “iya, namanya apa? Kalau kalian tidak tau bilang aja tidak tau.” Kompakan kita semua bilang, “tidak tau dokter.” Lalu beliau, memberitahu, “ini namanya scanogram, diinget-inget ya. Ntar di bedah saraf kamu bisa ditanyain loh. Kalau MRI medula spinalis markernya itu namanya MR Myelogram. Kalian udah pernah ngeliat MRI? Di sini memang gda si, tapi setidaknya kalian bisa lah ngebedain dengan CT, coba saya tunjukkin.” Lalu, kami dicariin gambar MRI, dan ibunya hanya menjelaskan, kalau MRI, makenya intensitas, kalau CT makenya densitas. MRI itu membuat tulangnya berwarna hitam, dan parenkim otanya justru terlihat lebih jelas. Inilah mengapa, kalo mau lihat jaringan lunak, memang imaging pilihan yang paling bagus MRI. Sedangkan kalo tulang, CT tetap pilihan utamanya.
Selain itu juga, dikasih tau banyak hal yentang ilmu-ilmu yang canggih lainnya di radiologi, ini si seputar pengetahuan kita saja, bukan kompetensi kita sebenarnya, tpai penting diketahui dokter umum, biar kalau mau ngerujuk ataupun memberikan alternatif terapi jadi tau. Kalau kata beliau si, “radiologi itu sebenarnya banyak tindakan-tindakan yang maco nya kok, yang cocok buat laki-laki juga. Sering ikut tindakan bedah juga. Tapi ya itu dibelakang layar jadi tidak terlihat. Kaya tindakan arteriografi, itu kan juga butuh keterampilan.” Haha, gara-gara residen banyaknya perempuan kali ya, ibunya jadi promosi juga. Beliau, menanyakan tentang TACE. Pastinya, kita gda yang tau, dan beliau kecewa. Katanya, gagal promosi kalau begitu. Jadi, TACE ini singkatan dari Trans Arterial Chemo Embolization, salah satu metode untuk menghilangkan/mengecilkan tumor. Jadi, dengan embolisasi yang terjadi itu, mengakibatkan aliran darah ke tumornya itu terhambat, sehingga pertumbuhan tumor menjadi terhambat, dan juga ditambah pemberian chemoterapi untuk tumornya. Kurang lebihnya begitu yang beliau jelaskan secara singkat. Ada juga TACI (Trans Arterial Chemo Infusion) masukin chemoterapinya lewat infus. Gimana penjelasannya aku juga bingung, g dijelaskan waktu itu.
Bahasa Surat
Aku diprotes sama ayah dan ibu. Katanya aku ini gda basa-basinya. Jadi, beberapa hari yang lalu, masa berlaku STNK kimi mau abis, ayah mengingatkanku untuk ngirim STNKnya ke rumah. Itu pun, sebenarnya aku g tau masa berlaku STNKnya terakhir sampai kapan. Kalau ayah tidak mengingatkan, mungkin aku pun lupa. Padahal kan, STNKnya ada di aku, tapi ayah yang lebih tau. Hehe. Berulang kali ayah mengingatkan agar aku segera mengirim, tapi aku selalu saja keluapaan. Setelah berkali-kali diingatkan, kukirim juga akhirnya. Hehe.
Sewaktu kirimanku sampai, ayah dan ibu menelpon, terus ibu langsung berujar padaku, “dek, itu yang benar saja, masa ngirim surat ke ayah, nulisnya ‘Kepada: Ha*** Ra***’ (baca: nama ayahku).” Aku bingung dan hanya menjawab, “Iya kan, emang buat ayah, itu kan nama Ayah.” Si ibu, ketawa. Lalu, ibu cerita, “Waktu ibu baca kepada nya, ibu kaget, terus nanya ke ayah, ini dari ima yah? Kok nulisnya gitu banget.” Aku jadi makin bingung, lalu ibu bilang, “kalo uda mu ngirimnya gini, ‘Kepada: Ibundaku Mar****’ (baca: nama ibuku). Kaya gitu, kalo ngirim surat ke orang tua.” Aku cuma cengar-cengir. “Emang kenapa bu?” ibu gemes kali ya aku g paham-paham, “iya, kalo ngirim ke ayah, harusnya, ‘kepada ayahandaku bla..bla..bla..’ Jangan langsung nama. Kaya gitu juga kalo ngirim ke kakak, ‘kepada kakandaku atau kakakku atau udaku bla..bla..bla..’ Jangan langsung nama. Ke om, ke saudara-saudara lain juga” Aku makin cengar-cengir. “hehe.. ya maaf bu, g ngerti kalo harus begitu. Ga pernah ngirim surat. Lagian itu kan bukan surat bu..” masih aja bisa membela diri. Ibu malah berujar, “iya si ya, kamu mah g pernah surat-suratan. Belajar sama ayah ibu makanya, dulu sering surat-suratan.” Hyahaha.. Aku ketawa ngekek dengernya.
Iya ya, aku jarang banget ngirim surat, sekalinya ngirim surat itu, ya surat-surat resmi, jadi g pernah pake begitu-begituan. Baiklah, lain kali kukasih embel-embel, ayahanda, ibunda, kakanda. Hihi..
Aku ingat, dulu, sewaktu masih SD, saya sering surat-suratan dengan teman yang berbeda pulau. Dia ini teman satu kelasku waktu kelas 3. Dan dia pindah ke Balikpapan, Kalimantan, waktu itu. Nah, dari situ, kami tetap berkomunikasi melalui surat. Semenjak itu, saya selalu menantikan suratnya, dan sangat gembira saat ayah membawakan suratnya untukku. Karena saya tinggal di komplek lokasi kerja ayah, jadi, setiap surat masuk itu, lewat kantor ayah. Biasanya, seminggu dua minggu jaraknya setiap dapet surat baru, kalau tidak salah ingat. Ada banyak surat-surat darinya, kadang juga terselip kenang-kenangan darinya. Aku pun sigap sekali untuk membalasnya. Tapi, aku lupa, apa saja ya yang saya tuliskan dalam surat itu. Semua suratnya, saya simpan dengan baik. Saya ingat lokasinya, di laci terbawah meja belajarku. Tapi, sekarang udah ga tau kemana. Sepertinya, sudah diselamatkan ibu (baca: buang).
Dulu juga, saya senang mengoleksi kertas surat, dan yang bergambar warna-warni yang lucu-lucu. Kami berkirim surat dengan kertas surat yang lucu-lucu itu. Kirim surat selalu kami lakukan dalam setahun ke depannya, setelah kelas 5 SD sepertinya sudah tidak lagi surat-suratan. Kalau tidak salah, karena dia pindah rumah, dan tak tau lagi bagaimana akhirnya, sampai kami tidak pernah lagi saling berkirim surat. Dan semenjak itu, saya tidak pernah kirim-kiriman surat lagi. Hehe..
Sewaktu kirimanku sampai, ayah dan ibu menelpon, terus ibu langsung berujar padaku, “dek, itu yang benar saja, masa ngirim surat ke ayah, nulisnya ‘Kepada: Ha*** Ra***’ (baca: nama ayahku).” Aku bingung dan hanya menjawab, “Iya kan, emang buat ayah, itu kan nama Ayah.” Si ibu, ketawa. Lalu, ibu cerita, “Waktu ibu baca kepada nya, ibu kaget, terus nanya ke ayah, ini dari ima yah? Kok nulisnya gitu banget.” Aku jadi makin bingung, lalu ibu bilang, “kalo uda mu ngirimnya gini, ‘Kepada: Ibundaku Mar****’ (baca: nama ibuku). Kaya gitu, kalo ngirim surat ke orang tua.” Aku cuma cengar-cengir. “Emang kenapa bu?” ibu gemes kali ya aku g paham-paham, “iya, kalo ngirim ke ayah, harusnya, ‘kepada ayahandaku bla..bla..bla..’ Jangan langsung nama. Kaya gitu juga kalo ngirim ke kakak, ‘kepada kakandaku atau kakakku atau udaku bla..bla..bla..’ Jangan langsung nama. Ke om, ke saudara-saudara lain juga” Aku makin cengar-cengir. “hehe.. ya maaf bu, g ngerti kalo harus begitu. Ga pernah ngirim surat. Lagian itu kan bukan surat bu..” masih aja bisa membela diri. Ibu malah berujar, “iya si ya, kamu mah g pernah surat-suratan. Belajar sama ayah ibu makanya, dulu sering surat-suratan.” Hyahaha.. Aku ketawa ngekek dengernya.
Iya ya, aku jarang banget ngirim surat, sekalinya ngirim surat itu, ya surat-surat resmi, jadi g pernah pake begitu-begituan. Baiklah, lain kali kukasih embel-embel, ayahanda, ibunda, kakanda. Hihi..
Aku ingat, dulu, sewaktu masih SD, saya sering surat-suratan dengan teman yang berbeda pulau. Dia ini teman satu kelasku waktu kelas 3. Dan dia pindah ke Balikpapan, Kalimantan, waktu itu. Nah, dari situ, kami tetap berkomunikasi melalui surat. Semenjak itu, saya selalu menantikan suratnya, dan sangat gembira saat ayah membawakan suratnya untukku. Karena saya tinggal di komplek lokasi kerja ayah, jadi, setiap surat masuk itu, lewat kantor ayah. Biasanya, seminggu dua minggu jaraknya setiap dapet surat baru, kalau tidak salah ingat. Ada banyak surat-surat darinya, kadang juga terselip kenang-kenangan darinya. Aku pun sigap sekali untuk membalasnya. Tapi, aku lupa, apa saja ya yang saya tuliskan dalam surat itu. Semua suratnya, saya simpan dengan baik. Saya ingat lokasinya, di laci terbawah meja belajarku. Tapi, sekarang udah ga tau kemana. Sepertinya, sudah diselamatkan ibu (baca: buang).
Dulu juga, saya senang mengoleksi kertas surat, dan yang bergambar warna-warni yang lucu-lucu. Kami berkirim surat dengan kertas surat yang lucu-lucu itu. Kirim surat selalu kami lakukan dalam setahun ke depannya, setelah kelas 5 SD sepertinya sudah tidak lagi surat-suratan. Kalau tidak salah, karena dia pindah rumah, dan tak tau lagi bagaimana akhirnya, sampai kami tidak pernah lagi saling berkirim surat. Dan semenjak itu, saya tidak pernah kirim-kiriman surat lagi. Hehe..
Dompet Kancing Flanel
Ceritanya, saya lagi kebingungan nyari dompet buat pengganti dompet favoritku yang udah belel. Belelnya si g jadi masalah, tapi yang jadi masalah adalah, perekatnya sudah tidak kuat, jadi rawan jatuh. Ini dia, dompet lamaku
Setiap jalan, aku pasti ngincer-ngincer, dompet yang oke yang pas dengan seleraku. Modelnya pengen g jauh2 dari ini. So simpel, kecil, dan tetap langsing kalo dimasukin kantong. Akhirnya, karena udah g mungkin lagi dipake, tapi saya tidak menemukan juga dompet yang sesuai dengan hati. Aku beli aja dompet yang lumayan lucu, tadinya, aku udah sreg aja sama ini dompet. Rp 9500 lagi, warna ijo, dan ada boneka kodoknya. Hm.. tapi, boneka kepala kodoknya ini menggembung, jadi bikin gendut kalo dimasukin kantong. Tapi, ya cukup dulu sajalah.
Sampai akhirnya, aku baca postingan mba kiki yang ini. Udah gitu, saya terinspirasi, kaka tingkat saya yang lagi buat tempat hape dari kain flanel. Benar juga, kenapa g bikin sendiri aja. Awalnya si, saya ga yakin benar-benar akan membuatnya. Tapi, kemarin, sewaktu saya jalan-jalan sendiri, nyari jilbab putih di pasar johar, bekel buat selama di anak, saya lewat toko tempat beli perlengkapan aneka kerajinan. Dulu pernah menamani teman ke sini. Akhirnya saya berinisiatif mampir deh. Berawal dari iseng-iseng sendiri, sampai akhirnya, ternyata , Alhamdulillah jadi.. Horeee.. ini dia dompet bikinan ku itu.. TIdak bagus si, tapi setidaknya sesuai selera ku. Karena, ini prakarya pertamaku, jadi emang hasilnya tidak rapih, hehe.. *harap dimaklumkan.. lagian untuk konsumsi pribadi ini, jadi tak masalah.
Sampai akhirnya, aku baca postingan mba kiki yang ini. Udah gitu, saya terinspirasi, kaka tingkat saya yang lagi buat tempat hape dari kain flanel. Benar juga, kenapa g bikin sendiri aja. Awalnya si, saya ga yakin benar-benar akan membuatnya. Tapi, kemarin, sewaktu saya jalan-jalan sendiri, nyari jilbab putih di pasar johar, bekel buat selama di anak, saya lewat toko tempat beli perlengkapan aneka kerajinan. Dulu pernah menamani teman ke sini. Akhirnya saya berinisiatif mampir deh. Berawal dari iseng-iseng sendiri, sampai akhirnya, ternyata , Alhamdulillah jadi.. Horeee.. ini dia dompet bikinan ku itu.. TIdak bagus si, tapi setidaknya sesuai selera ku. Karena, ini prakarya pertamaku, jadi emang hasilnya tidak rapih, hehe.. *harap dimaklumkan.. lagian untuk konsumsi pribadi ini, jadi tak masalah.
Kalo ditutup, begini jadinya..
Sisi satunya lagi jadi begini..
Dalemnya kaya begini..
Hihi..risletingnya agak gagal..tapi mau aku bongkar, males lagi, jadi sudah sajalah..g terlalu keliatan juga, kalo g diperhatikan. Lagian, yang penting bisa dibuka tutup..hehe..
Oia, modalnya dikit banget loh..
Kain flanelnya 25x25 cm selembarnya Rp 1.650 (cukup pake selembar)
Risleting Rp 800
Kancing Rp 250, tapi kalo beli selusin Rp 2500
Benang Jahit Rp 600
Lem Lilin Rp 700
Target selanjutnya, pengen bikin soft case hardisk eksternal, tapi.. ntahlah kapan lagi aku akan mengerjakannya. Sepertinya, masih sangat lama. Hehe..
Oia, modalnya dikit banget loh..
Kain flanelnya 25x25 cm selembarnya Rp 1.650 (cukup pake selembar)
Risleting Rp 800
Kancing Rp 250, tapi kalo beli selusin Rp 2500
Benang Jahit Rp 600
Lem Lilin Rp 700
Target selanjutnya, pengen bikin soft case hardisk eksternal, tapi.. ntahlah kapan lagi aku akan mengerjakannya. Sepertinya, masih sangat lama. Hehe..
Friday, February 18, 2011
Dubia ad Malam :(
Kagum banget dengan dosen waliku itu. Hebat! Beliau itu memang sangat cerdas! Terlihat juga dari caranya menguji kami, 2 hari ini. Bukan sekedar nilai tapi ilmu dan petuahnya diberikan untuk kita. Kata beliau, “sistematis dan pola pikir itu penting. Percaya deh, kalian itu di bagian-bagian lain pun penting sekali untuk berpikir sistematis. Saya juga pernah koass seperti kalian. Patofisiologi itu penting. Walaupun saya sudah lupa-lupa juga sekarang.” Ah ibuu..sepertinya engkau adalah koas yang sangat fisiologis. Ingin sekali mencontohmu.
Kami ditanya, pernah baca text book radiologi? Kami pun hanya bisa menggeleng. Secara, mentok-mentok kami hanya membaca radiologi UI. Setelah ujian, saya jadi semakin minder bahwa ilmu saya ternyata sedikit sekali, ternyata 4 minggu saya di radiologi saya tidak mendapatkan banyak ilmu. Padahal sebelum ujian saya merasa mendapatkan pencerahan setelah masuk bagian ini. Tapi, setelah ujian, saya jadi merasa kalo saya itu tidak tau apa-apa ternyata. Semua yang ditanyakannya kok pertanyaan-pertanyaan aneh ya. Hihi.. *kami yang aneh karena kami tidak tahu. Saya benar-benar minder dan saya tidak begitu yakin dengan ujian 2 hari ini. Hiks.. T.T
Kata beliau, radiologi itu tidak hanya sekedar tau bercak. Masa iya, setelah keluar dari radiologi oleh-olehnya hanya gambaran bercak. Hehe.. kami hanya tersenyum. Dan lagi-lagi, beliau akan berkata, berpikir sistematis itu penting. Dan saya pun menjadi bingung, berpikir sistematis seperti apa yang diinginkannya. Karena terkadang memang kita ini inginnya instan, belajar langsung buka halaman yang dicari, belajar hanya dari tentiran, tidak pernah membaca pendahuluan. Padahal kata beliau, membaca pendahuluan itu penting, karena dari pendahuluan itulah kita tahu, apa yang harus kita dapatkan dari bab tersebut. Betul bu, saya inginnya instan langsung mencari bagian yang ingin dicari. Dan saya memang bukan orang yang sistematis, dengan mampu menghafal urut. Ternyata beliau berpikir bahwa kita itu harus runut biar tidak ada yang terlewat. Tapi, sulit menghafal runut itu. Hehe, belum dibiasakan saja kali ya..
Taukah, teman. Tadi itu, ibunya benar-benar kecewa dengan penampilan kami. Dan kami mendapatkan ending yang sangat tidak menyenangkan. “sudah saja ya, saya capek, kalian mengecewakan jawabannya.” *T.T
“yasudah, kalau begini, kalian mau dapet nilai berapa? isi sendiri aja nih, saya bingung mau ngisinya kalau kaya gini.” *T.T
“Mungkin kalian lulus, tapi tidak excellent, lulusnya pas-pasan.” *T.T
Dan yang menohok diriku, spesial buatku, “kamu juga, hikma. Kayanya dulu nilaimu lumayan kok.” *ini artinya, sekarang saya sangat jauh dibawah standar beliau.. T.T
Sediiiiih.. dan kami dibilangin, “kalian ini kenapa to kalo jawab kok ragu-ragu. Kan yang nguji jadi gemes. Harusnya yakin aja, kalau salah urusan nanti, kalau salah ya diterima jangan juga ngeyel. Kalau jawab ragu itu karena apa? Karena gda isinya.. ilmunya gda..”
*hiks.. iya.. saya baru tau, ternyata selama ini setiap menjawab saya g pernah dengan lugas dan yakin, selalu penuh keraguan, gimana mau meyakinkan yang nguji! Harus dirubah, membiasakan ujian lisan, harus mampu meyakinkan yang nguji. *sepertinya saya telah berhasil menerapkan ini sewaktu di farmasi kemarin. Tidak boleh mengulangnya lagi besok-besok.
Tapi, ada yang melegakan walaupun tetap saja, ada kekecewaan yang tetap tampak dari ucapan beliau, akhirnya beliau berkata, “ya, kalian si g jelek-jelek banget sebenernya. Tapi, ada aja hal-hal yang sangat fatal yang seharusnya tidak keluar dari jawaban kalian. Kan lucu juga jadinya.” Hyaaa..sepertinya memang banyak yang fatal yang tidak kita ketahui bu.. *T.T..
Pasrah..pasrah..udah mana ident juga tidak terlalu meyakinkan..dubia..dubia.. ad..malam..
*hanya pada Allah kuberserah kalau sudah begini..
Selain itu, banyak banget ilmu baru yang saya dapatkan setelah ujian tadi. Apa sajakah itu? Menyusul ya..hehe..
Kami ditanya, pernah baca text book radiologi? Kami pun hanya bisa menggeleng. Secara, mentok-mentok kami hanya membaca radiologi UI. Setelah ujian, saya jadi semakin minder bahwa ilmu saya ternyata sedikit sekali, ternyata 4 minggu saya di radiologi saya tidak mendapatkan banyak ilmu. Padahal sebelum ujian saya merasa mendapatkan pencerahan setelah masuk bagian ini. Tapi, setelah ujian, saya jadi merasa kalo saya itu tidak tau apa-apa ternyata. Semua yang ditanyakannya kok pertanyaan-pertanyaan aneh ya. Hihi.. *kami yang aneh karena kami tidak tahu. Saya benar-benar minder dan saya tidak begitu yakin dengan ujian 2 hari ini. Hiks.. T.T
Kata beliau, radiologi itu tidak hanya sekedar tau bercak. Masa iya, setelah keluar dari radiologi oleh-olehnya hanya gambaran bercak. Hehe.. kami hanya tersenyum. Dan lagi-lagi, beliau akan berkata, berpikir sistematis itu penting. Dan saya pun menjadi bingung, berpikir sistematis seperti apa yang diinginkannya. Karena terkadang memang kita ini inginnya instan, belajar langsung buka halaman yang dicari, belajar hanya dari tentiran, tidak pernah membaca pendahuluan. Padahal kata beliau, membaca pendahuluan itu penting, karena dari pendahuluan itulah kita tahu, apa yang harus kita dapatkan dari bab tersebut. Betul bu, saya inginnya instan langsung mencari bagian yang ingin dicari. Dan saya memang bukan orang yang sistematis, dengan mampu menghafal urut. Ternyata beliau berpikir bahwa kita itu harus runut biar tidak ada yang terlewat. Tapi, sulit menghafal runut itu. Hehe, belum dibiasakan saja kali ya..
Taukah, teman. Tadi itu, ibunya benar-benar kecewa dengan penampilan kami. Dan kami mendapatkan ending yang sangat tidak menyenangkan. “sudah saja ya, saya capek, kalian mengecewakan jawabannya.” *T.T
“yasudah, kalau begini, kalian mau dapet nilai berapa? isi sendiri aja nih, saya bingung mau ngisinya kalau kaya gini.” *T.T
“Mungkin kalian lulus, tapi tidak excellent, lulusnya pas-pasan.” *T.T
Dan yang menohok diriku, spesial buatku, “kamu juga, hikma. Kayanya dulu nilaimu lumayan kok.” *ini artinya, sekarang saya sangat jauh dibawah standar beliau.. T.T
Sediiiiih.. dan kami dibilangin, “kalian ini kenapa to kalo jawab kok ragu-ragu. Kan yang nguji jadi gemes. Harusnya yakin aja, kalau salah urusan nanti, kalau salah ya diterima jangan juga ngeyel. Kalau jawab ragu itu karena apa? Karena gda isinya.. ilmunya gda..”
*hiks.. iya.. saya baru tau, ternyata selama ini setiap menjawab saya g pernah dengan lugas dan yakin, selalu penuh keraguan, gimana mau meyakinkan yang nguji! Harus dirubah, membiasakan ujian lisan, harus mampu meyakinkan yang nguji. *sepertinya saya telah berhasil menerapkan ini sewaktu di farmasi kemarin. Tidak boleh mengulangnya lagi besok-besok.
Tapi, ada yang melegakan walaupun tetap saja, ada kekecewaan yang tetap tampak dari ucapan beliau, akhirnya beliau berkata, “ya, kalian si g jelek-jelek banget sebenernya. Tapi, ada aja hal-hal yang sangat fatal yang seharusnya tidak keluar dari jawaban kalian. Kan lucu juga jadinya.” Hyaaa..sepertinya memang banyak yang fatal yang tidak kita ketahui bu.. *T.T..
Pasrah..pasrah..udah mana ident juga tidak terlalu meyakinkan..dubia..dubia.. ad..malam..
*hanya pada Allah kuberserah kalau sudah begini..
Selain itu, banyak banget ilmu baru yang saya dapatkan setelah ujian tadi. Apa sajakah itu? Menyusul ya..hehe..
Mungkin Saya emang Sombong..
hehe..cerita sangat tidak penting, hanya ingin curhat.. jika tidak berkenan tidak usaha dibuka..
Ini, gara-gara tadi ketemu segerombolan teman, dan aku hanya berusaha untuk senyum tidak sampai keluar kata, “hai!” lalu, ada yang berkata, “nyapa dong, kok g nyapa?” dalam hati aku langsung berujar, lah si, minta di sapa, situ juga diem aja.. haha..
Saya emang sering ditegor sama teman, terutama yang berjenis kelamin laki-laki, katanya si saya sombong. Haha.. memang!! Saya paling males negor laki-laki. Tapi, agak risih juga dibilang sombong, akhirnya saya jadi berusaha untuk menyapa, hanya sekedar ucap nama, langsung pergi, atau mungkin membunyikan klakson, saat di jalan. Jadi seperti nyapa tidak ikhlas. Haha.. Walaupun terkadang masih suka malas kulakukan. PIua-pura aja g liat, dan wus..berlalau.. Terkadang, aku juga berpikir, lah dia juga g nyapa saya, berarti siapa yang sombong? Sama aja dong.. *haha..otak egois muncul.
Bahkan teman satu kelompok saya sendiri sering banget bilang saya sombong. Tapi, lama-lama dia bosen juga dan semakin jarang memprotes kelakukan saya. Sekarang dia lagi cuti si. Katanya, saya itu kalo ada maunya aja nyapa. Terus dia suka ogah dimintain tolong, kalo saya g nyapa. Nyebelin banget deh! Padahal saya kan udah ramah. Haha.. Udah gitu, kalo ketemu di jalan, aku sering dibilang, “tuh kan ima sombong, g nyapa..” hiiii... akhirnya aku belajar untuk menyaapa, terus aku langsung bilang, “tuuu aku nyapa..” *ga ikhlas banget ya..hihi..
Aku memang agak dingin dengan laki-laki. Berusaha untuk tidak banyak basa-basi dengan makhluk ini. Tapi, bukan berarti saya tidak mau bergaul. Kalau memang saya ditanya, maka saya tetap akan ramah dan menjawab. Kalau sedang berkumpul bersama-sama, maka saya pun asik-asik aja dengan mereka. Ngobrol ini itu, tapi hampir tidak pernah yang bersifat pribadi. Kecuali saya ditanya. Itupun saya masih suka pilah2 jawab. Sebatas itu. Kalau hanya berdua atau aku perempuan sendiri, ya saya jadi diem kalau tidak ada urusan tugas yang harus diselesaikan. Kecuali memang saya diajak ngobrol, maka saya berusaha untuk membalas.
Jika tidak disapa, saya pun enggan menyapa. Jika tidak ada suatu kepentingan tugas, saya juga berusaha untuk tidak berhubungan di luar itu. Menjaga jarak selalu saya lakukan hingga saat ini, ntah sampai kapan saya akan bertahan untuk bersikap ambil jarak dengan lawan jenis. Tapi, saya senang-senang saja dengan bersikap jutek dan dikatakan sombong. Hehe..
Tapi, berbeda halnya dengan teman-teman sesama jenisku. Emang rata-rata temanku juga perempuan si. Alhamdulillah belum ada teman sesama jenis yang bilang saya jutek,.. tapi kalo sombong kayanya ada. Biasanya teman-teman yang udah jarang sekali ketemu, karena memang jarak yang memisahkan kita. Tapi, dia nya juga sombong karena benar-benar gda kabarnya. Hehe.. *jadi menurut saya, itu bukan kategori sombong, tapi memang tidak tau cara berhubungannya..
Saya berusaha untuk ramah kalo sama yang sesama jenis atau yang lebih tua. Dan reflek untuk heboh malah. Seperti tadi, saat kami di ruang koas radiologi, kacanya transparan jadi keliatan keluar, dan sering sekali orang hilir mudik di situ, sebenarnya si tidak terlalu menarik perhatian, karena agak jauh dari jalan setapaknya. Nah, tadi itu ada teman laki-laki yang lewat, refleks saya sangat datar, tapi ada satu teman saya perempuan heboh banget berusaha untuk nyapa *mungkin karena emang sudah dekat si ya, akhirnya dia menengok. Lucu sekali liatnya. Katanya kalo g heboh g akan liat, soalnya g kedengeran sampe luar. Benar saja, kemudian, teman kami perempuan lewat, kali ini saya yang berusaha menyapa, tapi tidak make gerakan yang heboh, hanya manggil, ternyata memang tidak terdengar dan alhasil dia tidak nengok, harus pake gerakan aneh ternyata. Tuh kan..kalo perempuan saya itu emang ramah. *jyaaahh..muji diri sendiri..hihi..
Saya tidak terbiasa seperitnya berhubungan terlalu dekat dengan lawan jenis. Itulah mengapa saya agak heran dengan pernyataan yang menganggap wajar hubungan yang dekat antar lawan jenis. Dan bukankah memang ada batasannya? Walaupun saya juga masih belum bisa untuk menerapkan batasan itu. Ada saja kadang terlewat batas. Karena apabila saya diajak ngobrol atau diskusi saya masih suka meladeni. Jaga jarak yang saya terapkan baru sebatas dari diri saya, jika tidak ada kepentingan, tidak pernah untuk memulai. Tapi, kalo udah diajak ngobrol bisa jadi kemana-mana emang. Tapi, Alhamdulillahnya dengan jutek dan membatasi diri dari diri saya sendiri saja, sudah membuat laki-laki sungkan mendekati. Hanya laki-laki yang rada aneh aja yang tahan menghadapi kejutekan saya mungkin ya. hehe..
Sebenarnya si, saya juga ingin bilang bahwa sebelum mengatakan orang sombong, coba tengok dalamnya dulu, apakah dia benar-benar sombong. Karena banyak sekali, orang yang emang pembawaannya seperti itu, tapi sebenarnya setelah kita mengenal lebih dalam tidak ada kata sombong dalam hatinya.. tengoklah lebih dalam teman.. *suara hati orang yang sering dibilang sombong karena memang pembawaan saya seperti ini..hehe..
160211
Ini, gara-gara tadi ketemu segerombolan teman, dan aku hanya berusaha untuk senyum tidak sampai keluar kata, “hai!” lalu, ada yang berkata, “nyapa dong, kok g nyapa?” dalam hati aku langsung berujar, lah si, minta di sapa, situ juga diem aja.. haha..
Saya emang sering ditegor sama teman, terutama yang berjenis kelamin laki-laki, katanya si saya sombong. Haha.. memang!! Saya paling males negor laki-laki. Tapi, agak risih juga dibilang sombong, akhirnya saya jadi berusaha untuk menyapa, hanya sekedar ucap nama, langsung pergi, atau mungkin membunyikan klakson, saat di jalan. Jadi seperti nyapa tidak ikhlas. Haha.. Walaupun terkadang masih suka malas kulakukan. PIua-pura aja g liat, dan wus..berlalau.. Terkadang, aku juga berpikir, lah dia juga g nyapa saya, berarti siapa yang sombong? Sama aja dong.. *haha..otak egois muncul.
Bahkan teman satu kelompok saya sendiri sering banget bilang saya sombong. Tapi, lama-lama dia bosen juga dan semakin jarang memprotes kelakukan saya. Sekarang dia lagi cuti si. Katanya, saya itu kalo ada maunya aja nyapa. Terus dia suka ogah dimintain tolong, kalo saya g nyapa. Nyebelin banget deh! Padahal saya kan udah ramah. Haha.. Udah gitu, kalo ketemu di jalan, aku sering dibilang, “tuh kan ima sombong, g nyapa..” hiiii... akhirnya aku belajar untuk menyaapa, terus aku langsung bilang, “tuuu aku nyapa..” *ga ikhlas banget ya..hihi..
Aku memang agak dingin dengan laki-laki. Berusaha untuk tidak banyak basa-basi dengan makhluk ini. Tapi, bukan berarti saya tidak mau bergaul. Kalau memang saya ditanya, maka saya tetap akan ramah dan menjawab. Kalau sedang berkumpul bersama-sama, maka saya pun asik-asik aja dengan mereka. Ngobrol ini itu, tapi hampir tidak pernah yang bersifat pribadi. Kecuali saya ditanya. Itupun saya masih suka pilah2 jawab. Sebatas itu. Kalau hanya berdua atau aku perempuan sendiri, ya saya jadi diem kalau tidak ada urusan tugas yang harus diselesaikan. Kecuali memang saya diajak ngobrol, maka saya berusaha untuk membalas.
Jika tidak disapa, saya pun enggan menyapa. Jika tidak ada suatu kepentingan tugas, saya juga berusaha untuk tidak berhubungan di luar itu. Menjaga jarak selalu saya lakukan hingga saat ini, ntah sampai kapan saya akan bertahan untuk bersikap ambil jarak dengan lawan jenis. Tapi, saya senang-senang saja dengan bersikap jutek dan dikatakan sombong. Hehe..
Tapi, berbeda halnya dengan teman-teman sesama jenisku. Emang rata-rata temanku juga perempuan si. Alhamdulillah belum ada teman sesama jenis yang bilang saya jutek,.. tapi kalo sombong kayanya ada. Biasanya teman-teman yang udah jarang sekali ketemu, karena memang jarak yang memisahkan kita. Tapi, dia nya juga sombong karena benar-benar gda kabarnya. Hehe.. *jadi menurut saya, itu bukan kategori sombong, tapi memang tidak tau cara berhubungannya..
Saya berusaha untuk ramah kalo sama yang sesama jenis atau yang lebih tua. Dan reflek untuk heboh malah. Seperti tadi, saat kami di ruang koas radiologi, kacanya transparan jadi keliatan keluar, dan sering sekali orang hilir mudik di situ, sebenarnya si tidak terlalu menarik perhatian, karena agak jauh dari jalan setapaknya. Nah, tadi itu ada teman laki-laki yang lewat, refleks saya sangat datar, tapi ada satu teman saya perempuan heboh banget berusaha untuk nyapa *mungkin karena emang sudah dekat si ya, akhirnya dia menengok. Lucu sekali liatnya. Katanya kalo g heboh g akan liat, soalnya g kedengeran sampe luar. Benar saja, kemudian, teman kami perempuan lewat, kali ini saya yang berusaha menyapa, tapi tidak make gerakan yang heboh, hanya manggil, ternyata memang tidak terdengar dan alhasil dia tidak nengok, harus pake gerakan aneh ternyata. Tuh kan..kalo perempuan saya itu emang ramah. *jyaaahh..muji diri sendiri..hihi..
Saya tidak terbiasa seperitnya berhubungan terlalu dekat dengan lawan jenis. Itulah mengapa saya agak heran dengan pernyataan yang menganggap wajar hubungan yang dekat antar lawan jenis. Dan bukankah memang ada batasannya? Walaupun saya juga masih belum bisa untuk menerapkan batasan itu. Ada saja kadang terlewat batas. Karena apabila saya diajak ngobrol atau diskusi saya masih suka meladeni. Jaga jarak yang saya terapkan baru sebatas dari diri saya, jika tidak ada kepentingan, tidak pernah untuk memulai. Tapi, kalo udah diajak ngobrol bisa jadi kemana-mana emang. Tapi, Alhamdulillahnya dengan jutek dan membatasi diri dari diri saya sendiri saja, sudah membuat laki-laki sungkan mendekati. Hanya laki-laki yang rada aneh aja yang tahan menghadapi kejutekan saya mungkin ya. hehe..
Sebenarnya si, saya juga ingin bilang bahwa sebelum mengatakan orang sombong, coba tengok dalamnya dulu, apakah dia benar-benar sombong. Karena banyak sekali, orang yang emang pembawaannya seperti itu, tapi sebenarnya setelah kita mengenal lebih dalam tidak ada kata sombong dalam hatinya.. tengoklah lebih dalam teman.. *suara hati orang yang sering dibilang sombong karena memang pembawaan saya seperti ini..hehe..
160211
Subscribe to:
Posts (Atom)