Kami masuk bagian besar ini hanya bersembilan. Sebagai junior kami dibagi kedalam 4 kelompok kecil lagi untuk melewati di setiap substasenya. Yap, kami bersembilan di stase ini. Selama sebulan sebagai junior, kami dibagi untuk memasuki 4 substase. Semuanya hanya berdua, kecuali kelompok ku, kebetulan mendapatkan jekpot bertiga. Udah gitu, yang lain personilnya cewek-cewek atau cowok-cowok, sedang kelompokku cewek-cowok-cowok. Jadilah, aku cewek sendiri di kelompok kecil kami.
Tugasku mungkin lebih ringan dibandingkan teman-teman yang lain yang hanya berdua. karena kami bertiga. Ternyata di stase ini, keberadaan satu orang aja sangat berarti. Memang tidak untuk waktu jaga, karena mau banyak atau sedikit personil kami, jaga di stase ini emang akan sama jumlahnya. Seminggu full untuk substase IGD-poli Ginekologi dan seminggu full untuk substase VK orientasi-poli Obstetri.
Keberadaan satu orang ternyata dapat memperingan pekerjaan yang itu artinya, kami bisa tetep istirahat walaupun jaga, karena kerjaan bisa terselesaikan lebih cepat dan bisa saling mengcover. Pengalaman dari temanku yang berdua, selama di vk bener-bener g bisa tidur, paling tidurnya itu cuma siang selesai poli sampai jam 3 aja, karena jam 4 sudah harus balik dan kembali ke rumah sakit untuk follow up dan jam 7 sudah harus kembali jaga vk. Dan vk hampir selalu penuh selama ada jampersal. Tapi, semuanya tergantung pasien yang masuk. Buktinya, selama jaga IGD, saya juga jarang bisa tidur nyenyak. Hari pertama jaga, minggu malam, bahkan sebelum saya menginjakkan kaki di smf obsgyn, saya sudah disuruh melahirkan plasenta. Gimana tidak kaget. Dan pasien terus berdatangan sampai pagi, hanya bisa mengejapkan mata sebentar, kemudian sudah dibangunkan lagi oleh kedatangan pasien. Lama kelamaan, kami sensitif sekali setiap mendengar suara brangkar-brangkar yang masuk ugd. Haha. Bertiga saja seperti itu, bagaimana kalau berdua?
Satu orang juga sangat berarti di bangsal ginekologi, karena jumlah bed yang harus kami follow up semakin sedikit. Itu artinya tidak perlu datang jam 2 pagi. Dan setiap operan, mereka akan bilang, kamu mah jam tiga juga masih bisa selesai, ma, kan bertiga. *tapi sepertinya tetap saja, hari pertama harus datang jam 2 dulu. Pengalaman teman-teman yang bahkan berempat dan berlima pun datangnya pagi-pagi buta juga. Hehe. Dan jika, disuruh konsul-konsul atau yang lainnya, ada tiga tenaga yang bisa disuruh. Satu orang sangat berarti!
Satu orang sangat berarti, saya merasakannya sendiri selama di substase fer kemarin. Kebetulan, teman saya diutus untuk mengikuti simulasi ujian OSCA ukdi, jadi saya tinggal berdua saja dalam menyelesaikan tugas. Kebetulan, teman saya yang satunya lagi adalah chief, jadilah dia pun punya agenda-agenda untuk di smf mengurusi tutorial, dsb. Otomatis kerjaan harus saya cover sebisa saya dulu sendiri sebelum akhirnya teman saya yang chief bisa kembali membantu, dan itu... bener-bener kerasa! Belum lagi, waktu mengerjakan tugas jadi lebih sempit karena ada tutorial dengan supervisor, jadi target bisa terselesaikan harus lebih cepat dari biasanya. Sedikit luntang lantung, lari sana lari sini. Ngos-ngosan. Kemudian saat ingat kerjaan lain, tidak ada yang bisa diminta untuk membantu menyelesaikan. Harus kebut menyelesaikan yang satu untuk menyelesaikan yang lain. padahal kalau ada yang lain kan biDan, ketika naik ke smf untuk tutorial, ternyata g jadi! Benar-benar nyesek. Kerjaan g beres, tutorial g jadi. Cape iya. Hehe.
Dan tak jarang terjadi, mereka iri karena satu orang yang sangat berarti itu! “kamu mah enak bertiga..” langsung nunduk.
Tenang, teman.. bukan mauku aku dipilihkan menjadi bertiga. Semua ada porsi tugasnya masing-masing yang insyaAllah tetap akan terselesaikan berapapun jumlahnya kita, jika kita mengerjakannya ikhlas dan sabar bukan? Saya bertiga juga karena mengcover chief yang memang kadang harus menghilang untuk mengurusi masalah tutorial dengan supervisor, tentiran dengan residen, dan hal lainnya. Jadi, dia perlu dibantu dua orang, bayangkan kalau hanya berdua?
Kami, bertiga juga maih tetap mau untuk mengcover kerjaan kalian teman. Kami tetap ada untuk aling membantu, jika kami mampu.
Untuk teman-teman obsgynku bersembilan semoga kita bisa melewati stase ini ya.... tidak kerasa bukan, sudah masuk minggu ketiga saja.. semoga ke depannya tetap tak ada masalah dan lancar jaya. Semoga bisa mengukir kenangan yang baik saja di sini.
Bersembilan.. benar-benar aneh awalnya. Setiap kita kumpul untuk tutorial, tentiran, fantom, kita suka merasa aneh sendiri, rasanya baru beberapa yang kumpul, tapi ternyata setelah dicek sudah kumpul semua. hehe.
Ini adalah kumpulan tulisan yang hanya untuk dikenang.. sebuah migrasi dari http://www.imadr.multiply.com
Saturday, September 24, 2011
Wednesday, September 21, 2011
Surat Untuk Sahabat
Bismillah..
Assalamu'alaykum..
Apa kabarmu di sana? Kuharap baik..
Satu hal yang ingin aku sampaikan, bahwa aku ingin sekali mengucapkan terimakasih untuk semuanya..bagaimanapun pasang surutnya pertemanan kita, tapi banyak hal yang telah aku peroleh dari pertemanan ini..
Kau mengajariku banyak hal tentang kehidupan.. terimakasih, teman..
Salam rindu,
Sahabatmu
---
"Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satupun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi hepi banget tapi justru nggak ada satupun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut."
-Tere Liye-
*untuk sahabatku yang banyak mengajariku kehidupan..
Tuesday, September 20, 2011
Pesan dari ayah tercintah!
A : "Lemes banget dek suaranya"
I : "hehe.."
A : "Capek dek?"
I : "Ya, begitulah yah.."
A : "Berangkat jam berapa ke Rumah Sakit?"
I : "Jam setengah limaan yah.."
A : "Subuh-subuh udah berangkat? tapi udah ga jaga setiap hari lagi kan?"
I : "Minggu depan lagi jaga tiap harinya, yah.."
A : "Sibuk ngapain aja ?periksa-periksa? ngelayanin pasien? laporan-laporan atau apa?"
I : "Semua yah, ya periksa, ya laporan, ya ngelayanin pasien, belum sibuk lainnya diluar itu semua, tugasnya banyak."
A : "Ya bagus kan kalo banyak tugasnya, akan semakin melatih kamu. Jadi belajar untuk tetap melayani pasien dengan ramah walaupun dalam keadaan capek. Jangan sampai karena kita capek, malah gak ramah dengan pasiennya. Ga boleh itu! obat untuk pasien itu intinya adalah keramahan dokter. Kalau dokternya ramah, rasanya jadi lebih sembuhan dari sebelumnya. Tidak cukup hanya dengan obat, obat itu hanya pelengkap saja."
I : "Iya Ayah, insyaAllah.. do'ain aja ya.."
A : "Jangan lupa jaga kesehatan juga ya, dek"
I : "InsyaAllah.."
*hwaaaa... ayah.. akan kukgenggam erat pesanmu ini.. insyaAllah.. anakmu akan memberikan yang terbaik..
terima kasih ayah ibu, do'amu akan selalu mengiringi perjalananku.. terima kasih buat semuanya..
Semarang, 19 September 2011
diantara sambungan sinyal-sinyal suara tanpa kabel...
I : "hehe.."
A : "Capek dek?"
I : "Ya, begitulah yah.."
A : "Berangkat jam berapa ke Rumah Sakit?"
I : "Jam setengah limaan yah.."
A : "Subuh-subuh udah berangkat? tapi udah ga jaga setiap hari lagi kan?"
I : "Minggu depan lagi jaga tiap harinya, yah.."
A : "Sibuk ngapain aja ?periksa-periksa? ngelayanin pasien? laporan-laporan atau apa?"
I : "Semua yah, ya periksa, ya laporan, ya ngelayanin pasien, belum sibuk lainnya diluar itu semua, tugasnya banyak."
A : "Ya bagus kan kalo banyak tugasnya, akan semakin melatih kamu. Jadi belajar untuk tetap melayani pasien dengan ramah walaupun dalam keadaan capek. Jangan sampai karena kita capek, malah gak ramah dengan pasiennya. Ga boleh itu! obat untuk pasien itu intinya adalah keramahan dokter. Kalau dokternya ramah, rasanya jadi lebih sembuhan dari sebelumnya. Tidak cukup hanya dengan obat, obat itu hanya pelengkap saja."
I : "Iya Ayah, insyaAllah.. do'ain aja ya.."
A : "Jangan lupa jaga kesehatan juga ya, dek"
I : "InsyaAllah.."
*hwaaaa... ayah.. akan kukgenggam erat pesanmu ini.. insyaAllah.. anakmu akan memberikan yang terbaik..
terima kasih ayah ibu, do'amu akan selalu mengiringi perjalananku.. terima kasih buat semuanya..
Semarang, 19 September 2011
diantara sambungan sinyal-sinyal suara tanpa kabel...
"Ingin Mulih"
Serombongan orang berbaju putih-putih itu memasuki sebuah ruangan. Bangsal 8C. Bangsalnya para wanita yang mengalami nasib kurang baik akan sakit yang dideritanya. Siapa juga yang mau masuk ke bangsal ini? Berlama-lama tidur di sini, mondok berhari-hari, jauh dari keluarga besar, jauh dari kenyamanan tempat tidur di rumah, jauh dari yang namanya suasana tawa bahagia keluarga di rumah? Kemurungan. Hanya sebuah kemurungan yang bisa ditampakkan dari bangsal ini. Kemurungan menunggu vonis yang akan diterima mereka setelah dilakukan berbagai macam pemeriksaan. Atau mungkin bagi yang sudah tervonis sejak dahulu kala, rasanya bangsal ini seperti menjadi rumah singgah kedua untuk mereka, menjalankan pengobatan rutin yang sebenarnya tidak mengenakkan bagi mereka. Atau bagi beberapa diantara mereka sedang lelah menunggu, menunggu giliran mereka dalam antrian operasi. Dan bagi mereka yang tak mampu dan tak punya bantuan pembiayaan semakin menjadi beban hidup dan pada akhirnya akan menjadi beban bagi penyakitnya, jadilah lingkaran setan. Oleh karena itu, terlilhat pula di tempat ini para keluarga wara-wiri untuk mengurus surat-surat agar mendapatkan sebuah jaminan kesehatan yang katanya telah dijanjikan oleh pemerintah!
Dan..
Pagi itu, di hari yang sama tiap minggunya. Selasa. Segerombolan orang-orang berbaju putih yang jumlahnya tak terhitung itu beriringan memasuki bangsal ini. Bangsal yang penuh kemuraman. Mendatangi satu per satu tempat tidur yang telah terhunikan. Mereka semua berbaju putih, hanya jenisnya saja yang berbeda, tampak seorang berjas putih tangan panjang itu berdiri paling depan dan paling dekat dengan pasiennya, diikuti dengan gerombolan berjas putih tangan pendek tanpa kancing serta kemudian diikuti gerombolan berjas putih panjang tangan pendek dengan kancing tertutup rapat, padat bergerombol di ruangan ini. Bagai ekor ular yang terus mengikuti kepalanya, seseorang berjas putih tangan panjang itu. Terus seperti itu, sampai tempat tidur di bangsal ini habis didatangi.
Tibalah pada akhirnya gerombolan ini masuk ke dalam sebuah ruangan dengan perawatan intensive. Sebuah ruangan yang hanya berkapasitas 4-5 tempat tidur yang diperuntukkan bagi pasien-pasien yang kritis yang perlu pengawasan ekstra dari semua pelayan kesehatan di bangsal ini. Ketika kakiku melangkah di dalamnya, tiba-tiba, terdengar suara mengiba disertai sesak napas yang terengah-engah,
"ingin mulih..ingin mulih.. ingin mulih.."
"pak.. ingin mulih.. g enak pak di sini.. g enak pak.. ingin mulih.."
terus..dan terus diulang-ulang..
Seorang wanita sepuh dengan selang oksigen dan infus nempel di tubuhnya. Meringkuk dibawah selimut. Saya taksir ini adalah pasien dengan asites akibat dari komplikasi kistoma ovarii yang dideritanya. Tidak kuat melihat wanita tua ini. Terus berucap dalam diri ini, meminta kepada Tuhan agar menghilangkan segala deritanya. Ringkihan wanita tua ini sangat menyayat hati rasanya. Ingin segera keluar saja dari tempat ini. Tempat yang penuh dengan kemuraman. Sebuah bangsal yang kelak akan menjadi tempatku bekerja bersama dua orang teman lainnya, 2 minggu lagi. Memeriksa pasien dan memfollow up kemajuan kesehatan pasien-pasien di sini. Menghafalkan semua pasien yang ada di sini, penyakitnya dan tindakan yang dilakukan. Semoga, saya bisa memeriksa dengan hati, tanpa terburu kerjaan yang menumpuk dan deadline yang harus diselesaikan tiap harinya. kurang lebih 60 lebih tempat tidur pasien yang hampir selalu penuh setiap harinya. InsyaAllah..
Dan..
Pagi itu, di hari yang sama tiap minggunya. Selasa. Segerombolan orang-orang berbaju putih yang jumlahnya tak terhitung itu beriringan memasuki bangsal ini. Bangsal yang penuh kemuraman. Mendatangi satu per satu tempat tidur yang telah terhunikan. Mereka semua berbaju putih, hanya jenisnya saja yang berbeda, tampak seorang berjas putih tangan panjang itu berdiri paling depan dan paling dekat dengan pasiennya, diikuti dengan gerombolan berjas putih tangan pendek tanpa kancing serta kemudian diikuti gerombolan berjas putih panjang tangan pendek dengan kancing tertutup rapat, padat bergerombol di ruangan ini. Bagai ekor ular yang terus mengikuti kepalanya, seseorang berjas putih tangan panjang itu. Terus seperti itu, sampai tempat tidur di bangsal ini habis didatangi.
Tibalah pada akhirnya gerombolan ini masuk ke dalam sebuah ruangan dengan perawatan intensive. Sebuah ruangan yang hanya berkapasitas 4-5 tempat tidur yang diperuntukkan bagi pasien-pasien yang kritis yang perlu pengawasan ekstra dari semua pelayan kesehatan di bangsal ini. Ketika kakiku melangkah di dalamnya, tiba-tiba, terdengar suara mengiba disertai sesak napas yang terengah-engah,
"ingin mulih..ingin mulih.. ingin mulih.."
"pak.. ingin mulih.. g enak pak di sini.. g enak pak.. ingin mulih.."
terus..dan terus diulang-ulang..
Seorang wanita sepuh dengan selang oksigen dan infus nempel di tubuhnya. Meringkuk dibawah selimut. Saya taksir ini adalah pasien dengan asites akibat dari komplikasi kistoma ovarii yang dideritanya. Tidak kuat melihat wanita tua ini. Terus berucap dalam diri ini, meminta kepada Tuhan agar menghilangkan segala deritanya. Ringkihan wanita tua ini sangat menyayat hati rasanya. Ingin segera keluar saja dari tempat ini. Tempat yang penuh dengan kemuraman. Sebuah bangsal yang kelak akan menjadi tempatku bekerja bersama dua orang teman lainnya, 2 minggu lagi. Memeriksa pasien dan memfollow up kemajuan kesehatan pasien-pasien di sini. Menghafalkan semua pasien yang ada di sini, penyakitnya dan tindakan yang dilakukan. Semoga, saya bisa memeriksa dengan hati, tanpa terburu kerjaan yang menumpuk dan deadline yang harus diselesaikan tiap harinya. kurang lebih 60 lebih tempat tidur pasien yang hampir selalu penuh setiap harinya. InsyaAllah..
Monday, September 19, 2011
Friday, September 16, 2011
Tuesday, September 13, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)