Showing posts with label anakanak. Show all posts
Showing posts with label anakanak. Show all posts

Saturday, November 21, 2009

Walau Hujan, Semangat Tetap Ada..

Suasana sore hari yang tidak mendukung, hujan rintik yang tidak lebat cukup untuk menjadi hambatan kegiatan sore ini. Udara yang sejuk manjadi pelengkap kemalasan diri untuk tetap berbaring dibawah selimut tebal. Saat itu, aku berusaha tetap memacu langkah dengan semangat, ada payung yang menemani, jadi kenapa hujan harus menjadi hambatan..hujan bukanlah alasan untuk mengabaikan kewajiban sore ini. 

Sambil melangkahkan kaki, saya mengira-ngira, akankah anak-anak tetap semangat melangkahkan kaki juga untuk menuntut ilmu Allah..belajar bagaimana membaca wahyu Allah dengan tartil..dengan cuaca yang sangat tidak mendukung ini..semoga..dan walau cuma satu, pasti ada anak yang seperti itu.. Ketika tak sampai beberapa meter lagi langkahku, hamparan masjid itu tampak kosong..hanya ada dua orang ibu-ibu yang sedang asik mngobrol dan terhenti ketika melihatku di kejauhan, lalu mereka berseru padaku, "hujan mba, anak-anaknya pada g dateng, tadi ada yang dateng cowo2, tapi balik lagi dikirain gda ngaji hari ini". Saya malah kembali bertanya sambil senyum-senyum karena bingung harus menanggapi gimana lagi, "oh iya ya bu? Ada yang dateng tadi?" Dalam hati saya merasa sangat bersalah, ternyata saya telat, padahal jam menunjukkan jarum pendek diangka empat dengan jarum panjang telah bergeser keangka 10. Biasanya ngaji baru dimulai ketika jarum panjang di angka 30 bahkan lebih, walau sebelum itu beberapa anak telah datang. Tapi tetap saja, kedatanganku yang tidak tepat ini membuat mereka hanya melihat tempat yang kosong dan berpikir tidak ada ngaji hari ini karena hujan. Saya cuma bisa berdoa, semoga Allah memaafkan aku. 

Kemudian saya duduk dan menanti kedatangan anak-anak lain yang ingin memperoleh ilmu sore ini. Saya buka halaman kertas yang saya bawa untuk kubaca sambil menanti, selain itu saya mulai iseng dengan membuka hpku lalu mulai menjepret. Tak lama kemudian ada yang datang, seorang anak perempuan cantik berpakaian orange lengkap dengan kerudung yang juga berwarna orange, membawa AlQur'an di tangannya. Seorang anak kecil pintar yang masih duduk di bangku TK Nol Besar, hm..berarti umurnya sekitar 6 tahun. Kebetulan rumahnya tak jauh dari hamparan mesjid tempat kami mengaji. Senangnya hatiku, masih ada yang semangat untuk tetap hadir. Dari jauh kusapa anak ini, "shalsa..." dia pun berlarian menuju tempat ini karena tidak memakai payung. Kami tidak langsung memulai karena menunggu yang lain hadir. Sambil menunggu shalsa kecil yang emang masih kecil jadi tidak lepas dari bermain. Dia bermain-main dengan payungku, berlari-lari, juga ikutan mainin hpku, mulai dari jepret-jepret hingga main game yang ada di hp. Shalsa ini anak yang hebat, dia hampir hafal sejuz dari juz 30. Aku pun kalah hafalannya. hehe.. suatu saat aku ingin menceritakan khusus tentangnya, semoga saja aku sempet membuatnya. 

Tak lama kemudian datang satu orang lagi, anak laki-laki yang besar dan ulahnya minta ampun..mesti sabar-sabar aja deh..hehe.. Dia udah kelas 6 sd, sudah bisa baca AlQur'an, tapi untuk hafalan masih jago shalsa. Dateng-dateng, dia langsung berkata, "mba, punya fesbuk g?" sambil memegang hpnya. "wuduh..hp baru?masih sd aja udah gaya punya hape..mau fesbukan lagi.." dia menimpal sambil asik dengan hapenya, "nggak og mba..ini masih diumpetin, dikasihnya klo aku mau ngaji aja, kalo g dipegang ibu." lalu dia menambah celotehnya dengan tetap asik mainin hpnya, bahkan aku pinjem ngeliat bentar aja, g dibolehin sama sekali. Benar-benar dah ni anak. Dulu, dia ini minta ampun rese nya, tiap ngaji pasti menodong mba-mba atau mas-mas nya yang ngajarin ngaji supaya mau minjemin hp mereka buat dia main game. Kalo kita gamau ngasih, dia g akan menyerah dengan tetap memaksa bahkan mengambil dengan paksa. Dan repotnya dia gamau diomongin. Kalo kita nasehatin g mau ngedengerin sedikitpun, malah terkadang menimpali. Oia, namanya Bofa. Dia juga punya 2 orang adik yang ikut belajar ngaji juga. Tadi saat kutanyakan adik-adiknya, dia menjawab lagi sakit. 

Setelah lumayan lama menunggu, kami pun mulai dengan diawali membaca surat AlFatihah dan do'a mau belajar. Lagi-lagi Bofa berulah, dia sulit sekali diajak untuk membuka belajar kita sore ini, dia gamau membaca do'a mau belajar. Hm... Dia malah bilang "aku keri ah mba.." awalnya aku ga tau maksudnya, ternyata dia mau terakhir, "yowes to..karepmu..tapi baca do'a dulu" Lalu, tiba-tiba Doni datang. Adiknya Bofa yang paling kecil, anak laki-laki yang sangat lucu, pipinya sangat menggemaskan sekali. Dia masih duduk di bangku TK Nol Kecil, jadi dia masih menggunakan Iqro, berbeda dengan shalsa yang juga masih TK tapi dia sudah ngaji dengan AlQur'an dan hampir hatam, Subhanallah.. Doni diantar temanku yang juga mengajar mereka, kebetulan dia ngekos di rumah orang tuanya Bofa dan Doni. Dia mengajar di hari yang berbeda, tapi berhubung tadi aku sendiri, jadi kuminta dia menemani sebentar, dan ternyata Shalsa emang ingin ngaji bersamanya. Jadi deh, aku membimbing Doni dengan Iqronya. Hiiii...gemesin banget, apalagi ketika Doni mengucapkan huruf demi huruf hijayyah, sangat semangat, sambil diiringi senyum dan tawa.. Setelah itu, saya mencoba hafalan pada Doni, mulai dari AlFatihah, yang ternyata masih sedikit belibet. Lalu, saya coba dengan AlIkhlas aku bimbing biar dia mengikuti, taunya dia cuma ngucapin sepenggal-penggal aja, dan keras bgt pas diakhirnya..jadi yang bersuara cuma "edde..edde..edde.." Dia ngikutin pas qolqolahnya ajaaaa... Hwaaa...dasar Doni...lucu bgt si kamu..

Saturday, October 17, 2009

Ketika Gizi Buruk Kian Menggeser Generasi Bangsa

Tiga Balita Menderita Gizi Buruk di Depok; Ditinggal Ibu Kawin Lagi, Komar Alami Gizi Buruk; Korban Tewas Gizi Buruk di NTT Sembilan Orang; Gizi Buruk Meningkat, Sumba Ambil Langkah Darurat; Enam Balita Penderita Gizi Buruk Meninggal Dunia;  30% Balita di Indonesia Gizi Buruk; 2.068 Balita di Surabaya Derita Gizi Buruk; 2 Anak Gizi Buruk di Bogor Terima Jamkesmas; Dua Anaknya Gizi Buruk, Ibu Muda Masuk RSJ; 2.500 Balita Tangerang Kurang Gizi,” itulah deretan judul yang menghiasi pelbagai media masa di Indonesia. Judul-judul ini membuat saya miris ketika membacanya. Balita dan anak-anak yang merupakan cikal bakal kehidupan, harapan bangsa Indonesia untuk membangun negeri ini kelak, mengalami sebuah nasib yang sangat mengenaskan. Kasus gizi buruk ini ditemukan hampir di seluruh pelosok Indonesia, mulai dari daerah yang terpencil, hingga kota besar seperti Jakarta yang notabene merupakan pusat kehidupan bangsa Indonesia.

 

Saya sebagai generasi muda merasa sangat prihatin melihat kondisi anak-anak Indonesia saat ini. Mereka adalah anak-anak yang nantinya akan meneruskan perjuangan generasi sebelumnya untuk melanjutkan kepemimpinan dan perjalanan Negara Indonesia ke depannya. Mereka adalah tampuk kehidupan masa yang akan datang. Dua puluh hingga empat puluh tahun kedepan, saatnya mereka memimpin dan meneruskan perjuangan kita untuk membangun Indonesia tercinta. Tetapi, apakah mereka ada saat itu? Jika kondisi mereka saat ini saja tidak mendukung keberadaan mereka. Kehidupan dan kondisi kesehatan mereka yang jauh dari kata layak ini, seperti halnya gizi buruk, bisa mengancam kehidupan mereka. Siapakah yang nantinya akan meneruskan perjuangan dua atau tiga puluh tahun mendatang? Akankah tiba saatnya lost generation di Indonesia ?

 

Kasus gizi buruk di Indonesia menempati kasus terbanyak yang dijumpai. Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi, tahun 2002/2003 terdapat 35 bayi yang meninggal di antara 1000 bayi yang dilahirkan yaitu sekitar 3,5% bayi meninggal, jika dihitung per hari ada 430 kematian bayi di Indonesia; terdapat kematian balita sebanyak 46 balita diantara 1000 balita yang lahir, jika dihitung per hari ada 566 kematian balita di Indonesia; Pada tahun 2005 jumlah anak kurang gizi sekitar 5 juta dan anak gizi buruk sekitar 1,5 juta, dan 150.000 anak menderita gizi buruk tingkat berat (marasmus-kwasiorkor). Selama periode bulan januari-maret 2008, Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA) juga telah mencatat 6454 kasus gizi buruk di beberapa wilayah Indonesia, diantaranya adalah Bone, Semarang, Kalimantan Tengah, Rote-Ndao (Flores NTT), Pinrang (Sulawesi Selatan), Jember, Bekasi, Trenggalek, Temanggung, Aceh, Surabaya, Tegal, Purworejo, dan Medan. Ini merupakan jumlah yang tidak sedikit. Pada tanggal 12 Desember 2008, ketua komisi IX DPR RI memberikan data di sebuah Koran online di Indonesia bahwa ada sekitar tiga puluh juta anak Indonesia menderita gizi buruk dari total anak Indonesia yang berjumlah 110 juta. Ini berarti 30% anak Indonesia telah menderita gizi buruk. Belum lagi masih begitu banyak kasus-kasus yang mengancam kehidupan anak Indonesia lainnya, seperti penyakit karena infeksi, kekerasan pada anak, bencana alam, semuanya itu dapat mengancam kehidupan anak Indonesia ke depannya. Gizi buruk sendiri sudah menjera 30% anak Indonesia dan dapat menyebabkan kematian pada anak.  Kalau pemerintah tidak juga menaikkan Anggaran dana untuk kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, maka nasib anak Indonesia pun akan sulit untuk diubah.

 

Gizi buruk yang terjadi di Indonesia salah satunya disebabkan karena tingkat kemiskinan di Indonesia, sehingga pemenuhan gizi seimbang dan mencukupi pun sangat sulit untuk dipenuhi. Kemiskinan yang menjera sebagian besar penduduk Indonesia pun menjadi kendala bagi orang tua untuk membawa anaknya ke pusat kesehatan yang ada walaupun anaknya sudah ada tanda-tanda sakit atau mengalami gizi buruk. Faktor lain yang menyebabkan hal ini adalah tingkat pendidikan orang tua yang rendah, sehingga mereka tidak mengetahui masalah gizi buruk yang menimpa anak-anak mereka. Sebagian besar orang tua tidak memahami bagaimana pemenuhan gizi anak yang benar, sehingga mereka hanya memberikan makanan yang mampu dibeli tanpa melihat tingkat kebutuhan nutrisi bagi anak di usia pertumbuhan dan perkembangan. Pendidikan orang tua yang rendah pun mengakibatkan minimnya ilmu yang mereka peroleh tentang perkembangan anak maupun kondisi fisik anaknya. Ketidaktahuan mereka akan gejala-gejala penyakit dan gizi buruk pada anak mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan dan pengobatan.

 

Di samping itu, faktor lingkungan dan budaya pun mengambil peranan dalam masalah ini. Budaya menonton televisi telah menjamur di Indonesia. Sebagian besar anak-anak menganggap bahwa televisi merupakan kebutuhan utamanya. Mata mereka terpaku terus-menerus, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hanya di depan televisi. Semua acara mereka tonton, terutama iklan-iklan yang akan selalu disiarkan di setiap jeda suatu acara televisi. Iklan-iklan ini banyak sekali mempertontonkan aneka jenis jajanan anak-anak yang dikemas sangat sempurna. Dari segi bahasanya yang sangat persuasive hingga  gambar-gambar yang menarik, bahkan diiming-iming oleh hadiah, membuat anak-anak tergoda untuk mencicipinya. Belum lagi aneka jenis jajanan anak ini terjejer dan tergatung rapih di kios-kios pasar. Kondisi ini akan menarik perhatian anak-anak ketika mengikuti orang tuanya ke pasar. Awalnya mereka meminta agar orang tuanya membelikan mereka, jika orang tua menolak, mereka akan megeluarkan jurus merengeknya, sehingga orang tua pun merasa tidak tega dan akan membelikannya. Akhirnya, seiring dengan waktu, anak-anak terbiasa untuk memakan jajanan tersebut. Hal ini mengakibatkan anak cenderung lebih menyukai makanan kecil tersebut  dibandingkan masakan ibunya yang lebih sehat dan lebih bergizi. Kepraktisan yang dialami orangtua dengan memberikan makanan olahan pabrik ini pun membuat para orang tua lebih memilih untuk membelikan anak mereka. Selain itu, budaya Indonesia yang mulai menggeser ke arah budaya Barat telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat Inodnesia. Saat ini, gaya hidup ala orang barat lebih digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya dalam hal makanan, dimana fast food yang berasal dari negara barat lebih digemari dan telah menjadi trend makanan masyarakat sekarang. Padahal fast food sendiri merupakan makanan olahan yang tidak sehat. Tidak sedikit pula, fast food yang tidak melabelkan komposisinya sehingga tidak diketahui nutrisi yang terkandung di dalamnya. Rasanya yang enak cenderung membuat anak menjadi suka dan lebih menggemari makanan seperti ini dibandingkan makanan olahan rumah yang lebih sehat dan bergizi.

 

Budaya memberi Air Susu Ibu (ASI) yang rendah saat ini pun menjadi kendala bagi pemenuhan gizi bagi anak. Ibu-ibu sekarang merasa lebih terhormat jika membelikan anaknya susu formula. Harga susu formula yang mahal membuat mereka bangga ketika membelikan anak-anak mereka susu formula. Mereka bangga bisa disebut sebagai orang kaya yang mampu membeli susu formula dengan harga yang mahal, padahal kandungan yang ada tidaklah sebaik ASI. ASI merupakan susu yang paling sempurna untuk anak hingga usia dua tahun. Bahkan sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan dianjurkan untuk pemberian ASI Klaustrum saat pertama kali ASI keluar. ASI ini sanagt baik, selain kandungannya yang mudah dicerna oleh bayi, dalam ASI ini terkandung banyak antibodi yang baik untuk kekebalan tubuh bayi. Kandungannya yang mampu diserap oleh tubuh bayi mencegah bayi mengalami diare. Dengan tercegahnya bayi dari diare maka tercegah pula bayi dari dehidrasi dan kematian akibat kurang gizi. Manfaat ASI yang baik ini akhirnya tidak dapat dirasakan oleh bayi jika para ibu tidak bersedia untuk memberikan ASI pada anak-anak mereka.

 

Sunggguh sebuah dilema, dimana ketika masyarakat yang tidak mampu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi anak-anaknya maupun diri sendiri, tapi di sisi lain orang-orang kaya menghambur-hamburkan uangnya dengan membeli makanan bagi anak-anaknya dengan harga mahal tapi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang mereka. Kemudian, di sisi lain, seorang ibu mampu meninggalkan anaknya demi bekerja, padahal anak butuh kasih sayang dan perhatian mereka. Kesibukan mereka mampu mengalahkan kepentingan anaknya sampai mereka enggan untuk memberi ASI kepada anaknya hanya karena alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Ini membuat hak anak untuk mendapatkan ASI pun hilang. Hahl ini mengakibatkan anak pun menjadi kekurangan nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

 

Di sisi lain, masalah pun datang dari pemerintahan dimana masalah tidak diselesaikan dengan sebaik mungkin dan hambatan tidak segera diatasi. Manajement kesehatan Indonesia mengambil peran dalam masalah yang sangat pelik ini. Masalah yang sebenarnya telah hampir dapat teratasi dengan baik hingga tahun 2000, dimana kasus gizi buruk telah menurun menjadi 24,6%, jika dibandingkan dengan sebelumnya pada tahun 1989 kasus gizi buruk sebesar 37,5%. Hal ini dikarenakan berfungsinya posyandu dengan baik. Adanya Posyandu sebenarnya sangat membantu dalam mengatasi masalah gizi buruk di Indonesia ini. Kenyataannya kasus gizi buruk meningkat kembali di tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2005 dijumpai 29% kasus gizi buruk. Peningkatan kembali kasus gizi buruk ini diikuti dengan peran posyandu yang perlahan mulai hilang, tinggal 40% dari kurang lebih 250.000 posyandu yang masih aktif saat ini. Perlu pembenahan manajement kesehatan kembali agar lebih baik dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Data lain mengatakan bahwa Dari segi biaya kesehatan, minimnya anggaran kesehatan menyebabkan masyarakat miskin hanya bisa pasrah apabila sakit, rasanya enggan untuk pergi ke dokter atau rumah sakit, biaya untuk makan saja sangat sulit untuk dipenuhi, apalagi harus pergi berobat yang artinya mereka harus mengeluarkan uang yang besar sekali, bahkan lebih besar dari biaya makan mereka. Anak-anak pun menjadi tumbalnya, mereka yang masih relatif rentan dan belum baik sistem pertahanan tubuhnya ditambah lagi dengan pemenuhan nutrisi yang sangat minim, akan mudah terserang suatu penyakit. Pertolongan yang telat pada anak pun akhirnya bisa mengakibatkan kematian.

 

Kondisi ini seharusnya tidak akan terjadi bila tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sudah baik. Anak-anak selayaknya mendapat perhatian yang cukup terutama dalam pemenuhan gizinya, sehingga diharapkan dengan nutrisi yang baik akan menciptakan anak-anak dengan kualitas prima untuk dapat melanjutkan kehidupan bangsa ini. Para orang tua yang secara fisik maupun psikis merupakan orang yang paling dekat dengan anak sangat diperlukan peranannya dalam menjaga dan memberikan perhatian lebih. Apabila Indonesia ingin menjadi Negara yang maju, maka anak-anaknya pun harus maju dan sehat. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat segera menyelesaikan pekerjaan rumah dalam pengentasan kemiskinan juga dalam  meningkatkan anggaran untuk kesehatan anak-anak di Indonesia. Selain pemerintah, peran lingkungan masyarakat mutlak diperlukan, terutama praktisi kesehatan. Pemberian penyuluhan dan pendidikan akan pentingnya gizi untuk anak-anak setidaknya dapat membuka pengetahuan orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam memantau perkembangan anak. Pemenuhan gizi seimbang dan pola asuh yang baik harus diterapkan oleh para orang tua. Komunikasi Informasi dan Edukasi akan gizi anak yang baik harus disosialisasikan ke masyarakat luas agar masyarakat yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan bisa menerapkannya di kehidupan. Pemberian makanan sesuai standar gizi di usia pertumbuhan dan perkembangan anak jika perlu digalakkan besar-besaran untuk keluarga yang tidak mampu. Anggaran untuk pendidikan pun sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar seluruh anak-anak Indonesia yang tidak mampu, bisa tetap mengenyam pendidikan. Bukan hanya wajib belajar sembilan tahun lagi, tetapi diharapkan dapat menjadi wajib belajar dua belas tahun, sehingga dalam beberapa dasawarsa kedepan anak Indonesia semuanya terpelajar. Bila semua upaya tersebut dapat direalisasikan, maka saya optimis, anak-anak Indonesia menjadi anak yang sehat, pandai dan sejahtera serta mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih berkualitas. Marilah kita perbaiki hidup anak-anak Indonesia untuk kehidupan bangsa Indonesia yang akan datang menjadi lebih baik.

Thursday, July 23, 2009

Hari Anak Nasional

23 Juli merupakan Hari Anak Nasional, inilah hari untuk anak-anak Indonesia. Pada hari ini anak-anak menyuarakan tekadnya dalam Tujuh butir suara anak Indonesia untuk menjadi perhatian pemerintah, yaitu:

1. Anak Indonesia ingin didengar dan dihargai pendapatnya tanpa diskriminatif.
2. Anak Indonesia bertekad menjalin komunikasi.
3. Anak Indonesia bertekad menjaga lingkungan dan menjaga alat reproduksi
    sehingga bisa terhindar dari bahaya penyakit seperti AIDS atau sindrom hilangnya sistem kekebalan tubuh.
4. Mendukung Anggaran Negara 20 persen untuk pendidikan dan penataan ulang Ujian Nasional
    yang saat ini digunakan sebagai satu-satunya syarat kelulusan.
5. Menghindari bahaya rokok, dan lingkungan yang tercemar rokok.
6. Mendukung proses hukum yang ramah terhadap anak.
7. Meminta disediakan fasilitas publik untuk anak.

Nah lo, anak-anak udah bertekad seperti ini, sekarang yang dewasa harus punya tekad yang lebih lagi mestinya. Masa kalah dengan anak-anak..hehe..^^

Kita lihat juga, apakah ini hanya sekedar tekad dari seseorang yang masih anak-anak, ataukah memang naluri seluruh anak Indonesia? Apakah ini hanya sebuah ucapan dari seseeorang yang masih anak-anak ataukah benar-benar sebuah tekad yang mesti kita dukung?

Orang dewasa mestinya paham akan nasib anak Indonesia yang semakin rusak karena perilaku orang dewasanya yang buruk, yang berdampak pada pola asuh yang buruk kepada anak sehingga mengganggu pertumbuhannya juga perkembangannya. Anak Indonesia telah bersuara, bahwa mereka butuh perhatian orang dewasa agar menjadi contoh yang baik untuk mereka dan menghargai mereka sebagai sosok manusia ciptaan Allah yang sangat berharga. Mereka butuh lingkungan yang nyaman dan aman untuk kepentingan pertumbuhan dan perkembangan mereka agar mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang sempurna saat dewasa demi melanjutkan perjuangan bangsa. Jika mereka tumbuh menjadi sosok yang paripurna, dampaknya pun akan berefek pada kemajuan Indonesia, kemajuan dunia, demi kebaikan akhirat. Dengarlah suara mereka, mereka pun makhluk yang diberi akal untuk berfikir, walaupun pikiran mereka belum sekritis orang dewasa tapi mereka butuh mengasah otak mereka untuk berfikir dan mengemukakan pendapat. Terkadang pendapat yang terlontar dari seorang anak itu lebih jujur dan belum terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran aneh yang telah memenuhi kepala orang dewasa. Mereka adalah sosok yang punya indera pengucap dan pendengaran, mereka memang diberikan keahlian untuk mendengar dan berbicara, atau bisa kita sebut berkomunikasi, jika Allah memberikannya, itu hak mereka untuk berkomunikasi, orang dewasa tidak punya hak untuk melarangnya, orang dewasa yang baik adalah memberi kesempatan dan membiarkan mereka mengeluarkan pikiran dengan pengontrolan dan ajaran-ajaran yang baik dari orang-orang dewasa. Oleh karena itu, mereka butuh contoh yang baik dari orang dewasa agar mereka tumbuh dan berkembang secara optimal. Tidak layak kita mengenalkan kekerasan pada mereka, tidak layak kita memberi beban kerja yang tinggi untuk mereka, tidak layak kita menghukum secara keji pada mereka, karena mereka berada dalam masa pembelajaran. Ada aturan yang bisa dikomunikasikan dengan baik kepada mereka. Mereka ada pada tahap tumbuh dan sedang menjalani masa perkembangan diri dan mental. Sudah selayaknya kita ada disampingnya untuk membantu dan mengajarkan anak Indonesia sesuatu yang baik, memberikan contoh yang baik.

Anak Indonesia butuh tumbuh dan berkembang dengan baik. Mereka membutuhkan fasilitas lingkungan yang mendukung. Mereka adalah makhluk yang masih rentan dan belum sempurna pertahanan tubuhnya, mereka sangat mudah terkena penyakit. Dan mereka belum pantas untuk menderita penyakit-penyakit aneh seperti HIV/AIDS, tapi jika Allah memang sudah menghendakinya, tidak ada yang bisa mengelak, anak-anak sekalipun. Tapi, jika seorang mendapatkan infeksi dari orang tuanya, karena pergaulan orang tuanya yang buruk, apakah itu bisa dimaafkan? Orang tua seperti apa itu yang membeiarkan anaknya terinfeksi suatu penyakit yang belum pantas mereka tanggung. Jadilah orang tua yang melindungi dan menaungi mereka. Buatlah anak-anak merasa terlindungi dengan bersama kita, orang dewasa. Bukan malah membuat anak merasa was-was bersama orang dewasa. Jangan sampai, mereka malah merasa tidak aman ketika bersama orang dewasa. Gimana tidak, udah tau rokok sangat bahaya masih aja dihisap. Okeh lah kalo dampaknya hanya untuk diri mereka sendiri, silakan saja, hak kalian untuk memilih mau sehat atau tidak. Tapi, masalahnya dampak dari rokok ini pun mengenai orang-orang yang ada disekelilingnya. Orang-oran tidak berdosa pun akan merasakan imbasnya, dan jangan salah, perokok pasif jauh lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif. Terlebih lagi kalo anak-anak yang menjadi sasarannya. Hm..sungguh keterlaluan. Mereka yang masih kecil dibiarkan terpapar asap rokok sejak dini, maka akan berefek lebih buruk lagi, seperti telah diketahui suatu efek akan semakin menimbulkan masalah apabila paparan yang terjadi semakin lama dan semakin sering. Ada sebuah hubungan antara lamanya terpapar sesuatu zat yang buruk dengan efek buruk yang ditimbulkannya. Kalo seperti itu apakah pantas seorang ayah merokok didepan anaknya? Apakah pantas ibu yang sedang hamil merokok? Apakah pantas orang-orang dewasa merokok di tempat-tempat umum, dimana banyak anak-anak disekeliling mereka? Mana kepedulian kita sebagai seorang dewasa dalam mewujudkan anak yang sehat fisik dan jiwanya, jika fisik dan jiwa kita saja tak terbenah dengan baik.

Jika ingin masa depan Indonesia baik, maka perbaikilah generasi mudanya, perbaikilah generasi anak-anaknya. Jika ingin generasi mudanya baik, maka optimalkanlah pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik akan kembali lagi dengan masyarakat kini yang cerdas dalam mendidik anak-anak. Jadi, jika ingin perbaiki Indonesia, maka perbaiki diri terlebih dahulu untuk menjadi insan yang baik!

 

Saturday, June 20, 2009

Al-Kautsar Sabtu Sore

Ika, salsa, ami, putri, puput, adam, kiki, irvan, bofa, yusuf, tria, cantika, farel, elang, slamet riyadi, avi, desi, azizah, sakinah, ridho, novi, laras, farhan, dan masih banyak lagi anak-anak yang tidak kuingat.

Saya ingin sekali mulai mengingatnya satu per satu agar ikatan itu ada, rasa saling percaya, menyayangi dan menghargai pun bisa timbul. Tidak seperti yang saya rasakan selama ini, mereka benar-benar tidak menghargai kami dan benar-benar tidak mau nurut dengan kami. Mungkin pendekatan kami ke merekanya yang kurang baik juga. Setiap sabtu, saya selalu berusaha mengajak mereka yang sedang asik main-main, biasanya mereka bermain juga segerombolan yang ikut ngaji, jadi agak lebih gampang mengajaknya. Yah..walaupun, boro-boro mereka mau denger dan nurut, yang ada mereka selalu cari-cari alasan..”moh ah mba..males ngaji”, “ga enak ngaji tuh mba” “mba e pelit og ngasih nilainya” “mba e pilih kasih og kalo sama yang cewe-cewe” “nanti mba main dulu” “libur si mba..masa ngaji terus..” dan banyak lagi alasan-alasan yang selalu terlontar. Haduh..haduh..saya bingung harus bersikap seperti apa. Sabar..sabar.. Hm..mereka itu sangat bervariasi sifat dan sikapnya, tapi kalau bisa disimpulkan, sangat-sangat membuat lelah, tapi seneng.

 

Nah, sekarang saya ingin cerita tentang farel..

Farel, anak yang masih sangat kecil sekali, hm..2 atau 3 tahunan..belum jelas bicaranya, sehingga butuh usaha ekstra untuk bisa tahu apa yang dia omongkan.

S: “farel..hayu sini..ngaji yu sama mba..”

F: “eh..eh..”(sambil mukul-mukul saya lalu dia nunjuk-nunjuk bukunya)

S: “wah..ini bukunya farel?”

F: “bis..bis..”(sambil nunjuk-nunjuk bukunya dengan bulpennya)

S: “mau gambar bis?” (sambil kebingungan dan berusaha keras mencerna apa yang dia  mau)

F: “heeeee…ni..bis..bis..ni..”

S: “ho..iya iya..sini digambarin”

F: “ni..ni..(sambil nunjuk-nunjuk suatu tempat di bukunya untuk digambar)”

S: “iya..bentar ya..”(lalu saya menggambar di tempat lainnya)

F: “eeee…ni..ni..”(sambil menunjuk di suatu tempat dan dengan kerasnya dia meminta untuk dituruti kalau saya harus gambar di tempat itu g boleh di tempat lain)

(lalu saya gambar deh bis itu..hm..g bagus sih..tapi lumayanlah dia pun tak menginginkan gambar bagus, hanya ingiin saya menggambar bis)

F: “bis..bis..nih..nih”

S: “loh..lagi??” (dalam hati)

(dengan rada bego, saya pun menggambar lagi)

F: “ni..ni..bis..”(menunjuk tempat lainnya)

terus dan terus...lagi dan lagi..permintaan yang sama...

hanya tempatnya yang beda-beda..

hanya dengan ucapan..”bis..ni..ni..bis..”

saya jadi terpikir sebenernya yang diinginin anak ini beneran suruh gambar bis atau g sih??hahaha..untung kamu masih kecil seperti ini, jadi saya ga mungkin berfikir kalo kamu lagi ngerjain saya. Jadi saya ikuti deh apa yang diminta. Akhirnya saya lelah dan waktu pun semakin sore, kemudian saya putuskan untuk mengakhirinya, dengan membiarkannya berceloteh seinginnya. aAkhirnya dia jenuh senidri dan pergi ke orang tuanya (ho..semoga dia tidak wadul yah..) dan saya pun memfokuskan ke anak-anak lain yang ingin mengaji..Alhamdulillah akhirnya anak-anak semakin banyak yang berdatangan..