Ini adalah kumpulan tulisan yang hanya untuk dikenang.. sebuah migrasi dari http://www.imadr.multiply.com
Saturday, November 21, 2009
Walau Hujan, Semangat Tetap Ada..
Saturday, October 17, 2009
Ketika Gizi Buruk Kian Menggeser Generasi Bangsa
“Tiga Balita Menderita Gizi Buruk di Depok; Ditinggal Ibu Kawin Lagi, Komar Alami Gizi Buruk; Korban Tewas Gizi Buruk di NTT Sembilan Orang; Gizi Buruk Meningkat, Sumba Ambil Langkah Darurat; Enam Balita Penderita Gizi Buruk Meninggal Dunia; 30% Balita di Indonesia Gizi Buruk; 2.068 Balita di Surabaya Derita Gizi Buruk; 2 Anak Gizi Buruk di Bogor Terima Jamkesmas; Dua Anaknya Gizi Buruk, Ibu Muda Masuk RSJ; 2.500 Balita Tangerang Kurang Gizi,” itulah deretan judul yang menghiasi pelbagai media masa di Indonesia. Judul-judul ini membuat saya miris ketika membacanya. Balita dan anak-anak yang merupakan cikal bakal kehidupan, harapan bangsa
Saya sebagai generasi muda merasa sangat prihatin melihat kondisi anak-anak
Kasus gizi buruk di
Gizi buruk yang terjadi di
Di samping itu, faktor lingkungan dan budaya pun mengambil peranan dalam masalah ini. Budaya menonton televisi telah menjamur di Indonesia. Sebagian besar anak-anak menganggap bahwa televisi merupakan kebutuhan utamanya. Mata mereka terpaku terus-menerus, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hanya di depan televisi. Semua acara mereka tonton, terutama iklan-iklan yang akan selalu disiarkan di setiap jeda suatu acara televisi. Iklan-iklan ini banyak sekali mempertontonkan aneka jenis jajanan anak-anak yang dikemas sangat sempurna. Dari segi bahasanya yang sangat persuasive hingga gambar-gambar yang menarik, bahkan diiming-iming oleh hadiah, membuat anak-anak tergoda untuk mencicipinya. Belum lagi aneka jenis jajanan anak ini terjejer dan tergatung rapih di kios-kios pasar. Kondisi ini akan menarik perhatian anak-anak ketika mengikuti orang tuanya ke pasar. Awalnya mereka meminta agar orang tuanya membelikan mereka, jika orang tua menolak, mereka akan megeluarkan jurus merengeknya, sehingga orang tua pun merasa tidak tega dan akan membelikannya. Akhirnya, seiring dengan waktu, anak-anak terbiasa untuk memakan jajanan tersebut. Hal ini mengakibatkan anak cenderung lebih menyukai makanan kecil tersebut dibandingkan masakan ibunya yang lebih sehat dan lebih bergizi. Kepraktisan yang dialami orangtua dengan memberikan makanan olahan pabrik ini pun membuat para orang tua lebih memilih untuk membelikan anak mereka. Selain itu, budaya Indonesia yang mulai menggeser ke arah budaya Barat telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat Inodnesia. Saat ini,
Budaya memberi Air Susu Ibu (ASI) yang rendah saat ini pun menjadi kendala bagi pemenuhan gizi bagi anak. Ibu-ibu sekarang merasa lebih terhormat jika membelikan anaknya susu formula. Harga susu formula yang mahal membuat mereka bangga ketika membelikan anak-anak mereka susu formula. Mereka bangga bisa disebut sebagai orang kaya yang mampu membeli susu formula dengan harga yang mahal, padahal kandungan yang ada tidaklah sebaik ASI. ASI merupakan susu yang paling sempurna untuk anak hingga usia dua tahun. Bahkan sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan dianjurkan untuk pemberian ASI Klaustrum saat pertama kali ASI keluar. ASI ini sanagt baik, selain kandungannya yang mudah dicerna oleh bayi, dalam ASI ini terkandung banyak antibodi yang baik untuk kekebalan tubuh bayi. Kandungannya yang mampu diserap oleh tubuh bayi mencegah bayi mengalami diare. Dengan tercegahnya bayi dari diare maka tercegah pula bayi dari dehidrasi dan kematian akibat kurang gizi. Manfaat ASI yang baik ini akhirnya tidak dapat dirasakan oleh bayi jika para ibu tidak bersedia untuk memberikan ASI pada anak-anak mereka.
Sunggguh sebuah dilema, dimana ketika masyarakat yang tidak mampu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi anak-anaknya maupun diri sendiri, tapi di sisi lain orang-orang kaya menghambur-hamburkan uangnya dengan membeli makanan bagi anak-anaknya dengan harga mahal tapi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang mereka. Kemudian, di sisi lain, seorang ibu mampu meninggalkan anaknya demi bekerja, padahal anak butuh kasih sayang dan perhatian mereka. Kesibukan mereka mampu mengalahkan kepentingan anaknya sampai mereka enggan untuk memberi ASI kepada anaknya hanya karena alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Ini membuat hak anak untuk mendapatkan ASI pun hilang. Hahl ini mengakibatkan anak pun menjadi kekurangan nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Di sisi lain, masalah pun datang dari pemerintahan dimana masalah tidak diselesaikan dengan sebaik mungkin dan hambatan tidak segera diatasi. Manajement kesehatan Indonesia mengambil peran dalam masalah yang sangat pelik ini. Masalah yang sebenarnya telah hampir dapat teratasi dengan baik hingga tahun 2000, dimana kasus gizi buruk telah menurun menjadi 24,6%, jika dibandingkan dengan sebelumnya pada tahun 1989 kasus gizi buruk sebesar 37,5%. Hal ini dikarenakan berfungsinya posyandu dengan baik. Adanya Posyandu sebenarnya sangat membantu dalam mengatasi masalah gizi buruk di
Kondisi ini seharusnya tidak akan terjadi bila tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sudah baik. Anak-anak selayaknya mendapat perhatian yang cukup terutama dalam pemenuhan gizinya, sehingga diharapkan dengan nutrisi yang baik akan menciptakan anak-anak dengan kualitas prima untuk dapat melanjutkan kehidupan bangsa ini. Para orang tua yang secara fisik maupun psikis merupakan orang yang paling dekat dengan anak sangat diperlukan peranannya dalam menjaga dan memberikan perhatian lebih. Apabila Indonesia ingin menjadi Negara yang maju, maka anak-anaknya pun harus maju dan sehat. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat segera menyelesaikan pekerjaan rumah dalam pengentasan kemiskinan juga dalam meningkatkan anggaran untuk kesehatan anak-anak di Indonesia. Selain pemerintah, peran lingkungan masyarakat mutlak diperlukan, terutama praktisi kesehatan. Pemberian penyuluhan dan pendidikan akan pentingnya gizi untuk anak-anak setidaknya dapat membuka pengetahuan orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam memantau perkembangan anak. Pemenuhan gizi seimbang dan pola asuh yang baik harus diterapkan oleh para orang tua. Komunikasi Informasi dan Edukasi akan gizi anak yang baik harus disosialisasikan ke masyarakat luas agar masyarakat yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan bisa menerapkannya di kehidupan. Pemberian makanan sesuai standar gizi di usia pertumbuhan dan perkembangan anak jika perlu digalakkan besar-besaran untuk keluarga yang tidak mampu. Anggaran untuk pendidikan pun sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar seluruh anak-anak Indonesia yang tidak mampu, bisa tetap mengenyam pendidikan. Bukan hanya wajib belajar sembilan tahun lagi, tetapi diharapkan dapat menjadi wajib belajar dua belas tahun, sehingga dalam beberapa dasawarsa kedepan anak Indonesia semuanya terpelajar. Bila semua upaya tersebut dapat direalisasikan, maka saya optimis, anak-anak Indonesia menjadi anak yang sehat, pandai dan sejahtera serta mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih berkualitas. Marilah kita perbaiki hidup anak-anak Indonesia untuk kehidupan bangsa Indonesia yang akan datang menjadi lebih baik.
Thursday, July 23, 2009
Hari Anak Nasional
23 Juli merupakan Hari Anak Nasional, inilah hari untuk anak-anak Indonesia. Pada hari ini anak-anak menyuarakan tekadnya dalam Tujuh butir suara anak Indonesia untuk menjadi perhatian pemerintah, yaitu:
1. Anak
2. Anak Indonesia bertekad menjalin komunikasi.
3. Anak Indonesia bertekad menjaga lingkungan dan menjaga alat reproduksi
sehingga bisa terhindar dari bahaya penyakit seperti AIDS atau sindrom hilangnya sistem kekebalan tubuh.
4. Mendukung Anggaran Negara 20 persen untuk pendidikan dan penataan ulang Ujian Nasional
yang saat ini digunakan sebagai satu-satunya syarat kelulusan.
5. Menghindari bahaya rokok, dan lingkungan yang tercemar rokok.
6. Mendukung proses hukum yang ramah terhadap anak.
7. Meminta disediakan fasilitas publik untuk anak.
Nah lo, anak-anak udah bertekad seperti ini, sekarang yang dewasa harus punya tekad yang lebih lagi mestinya. Masa kalah dengan anak-anak..hehe..^^
Kita lihat juga, apakah ini hanya sekedar tekad dari seseorang yang masih anak-anak, ataukah memang naluri seluruh anak
Orang dewasa mestinya paham akan nasib anak
Anak
Jika ingin masa depan Indonesia baik, maka perbaikilah generasi mudanya, perbaikilah generasi anak-anaknya. Jika ingin generasi mudanya baik, maka optimalkanlah pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik akan kembali lagi dengan masyarakat kini yang cerdas dalam mendidik anak-anak. Jadi, jika ingin perbaiki Indonesia, maka perbaiki diri terlebih dahulu untuk menjadi insan yang baik!
Saturday, June 20, 2009
Al-Kautsar Sabtu Sore
Ika, salsa, ami, putri, puput, adam, kiki, irvan, bofa, yusuf, tria, cantika, farel, elang, slamet riyadi, avi, desi, azizah, sakinah, ridho, novi, laras, farhan, dan masih banyak lagi anak-anak yang tidak kuingat.
Saya ingin sekali mulai mengingatnya satu per satu agar ikatan itu ada, rasa saling percaya, menyayangi dan menghargai pun bisa timbul. Tidak seperti yang saya rasakan selama ini, mereka benar-benar tidak menghargai kami dan benar-benar tidak mau nurut dengan kami. Mungkin pendekatan kami ke merekanya yang kurang baik juga. Setiap sabtu, saya selalu berusaha mengajak mereka yang sedang asik main-main, biasanya mereka bermain juga segerombolan yang ikut ngaji, jadi agak lebih gampang mengajaknya. Yah..walaupun, boro-boro mereka mau denger dan nurut, yang ada mereka selalu cari-cari alasan..”moh ah mba..males ngaji”, “ga enak ngaji tuh mba” “mba e pelit og ngasih nilainya” “mba e pilih kasih og kalo sama yang cewe-cewe” “nanti mba main dulu” “libur si mba..masa ngaji terus..” dan banyak lagi alasan-alasan yang selalu terlontar. Haduh..haduh..saya bingung harus bersikap seperti apa. Sabar..sabar.. Hm..mereka itu sangat bervariasi sifat dan sikapnya, tapi kalau bisa disimpulkan, sangat-sangat membuat lelah, tapi seneng.
Nah, sekarang saya ingin cerita tentang farel..
Farel, anak yang masih sangat kecil sekali, hm..2 atau 3 tahunan..belum jelas bicaranya, sehingga butuh usaha ekstra untuk bisa tahu apa yang dia omongkan.
S: “farel..hayu sini..ngaji yu sama mba..”
F: “eh..eh..”(sambil mukul-mukul saya lalu dia nunjuk-nunjuk bukunya)
S: “wah..ini bukunya farel?”
F: “bis..bis..”(sambil nunjuk-nunjuk bukunya dengan bulpennya)
S: “mau gambar bis?” (sambil kebingungan dan berusaha keras mencerna apa yang dia mau)
F: “heeeee…ni..bis..bis..ni..”
S: “ho..iya iya..sini digambarin”
F: “ni..ni..(sambil nunjuk-nunjuk suatu tempat di bukunya untuk digambar)”
S: “iya..bentar ya..”(lalu saya menggambar di tempat lainnya)
F: “eeee…ni..ni..”(sambil menunjuk di suatu tempat dan dengan kerasnya dia meminta untuk dituruti kalau saya harus gambar di tempat itu g boleh di tempat lain)
(lalu saya gambar deh bis itu..hm..g bagus sih..tapi lumayanlah dia pun tak menginginkan gambar bagus, hanya ingiin saya menggambar bis)
F: “bis..bis..nih..nih”
S: “loh..lagi??” (dalam hati)
(dengan rada bego, saya pun menggambar lagi)
F: “ni..ni..bis..”(menunjuk tempat lainnya)
terus dan terus...lagi dan lagi..permintaan yang sama...
hanya tempatnya yang beda-beda..
hanya dengan ucapan..”bis..ni..ni..bis..”
saya jadi terpikir sebenernya yang diinginin anak ini beneran suruh gambar bis atau g sih??hahaha..untung kamu masih kecil seperti ini, jadi saya ga mungkin berfikir kalo kamu lagi ngerjain saya. Jadi saya ikuti deh apa yang diminta. Akhirnya saya lelah dan waktu pun semakin sore, kemudian saya putuskan untuk mengakhirinya, dengan membiarkannya berceloteh seinginnya. aAkhirnya dia jenuh senidri dan pergi ke orang tuanya (ho..semoga dia tidak wadul yah..) dan saya pun memfokuskan ke anak-anak lain yang ingin mengaji..Alhamdulillah akhirnya anak-anak semakin banyak yang berdatangan..