Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Saturday, October 17, 2009

Ketika Gizi Buruk Kian Menggeser Generasi Bangsa

“Tiga Balita Menderita Gizi Buruk di Depok; Ditinggal Ibu Kawin Lagi, Komar Alami Gizi Buruk; Korban Tewas Gizi Buruk di NTT Sembilan Orang; Gizi Buruk Meningkat, Sumba Ambil Langkah Darurat; Enam Balita Penderita Gizi Buruk Meninggal Dunia;  30% Balita di Indonesia Gizi Buruk; 2.068 Balita di Surabaya Derita Gizi Buruk; 2 Anak Gizi Buruk di Bogor Terima Jamkesmas; Dua Anaknya Gizi Buruk, Ibu Muda Masuk RSJ; 2.500 Balita Tangerang Kurang Gizi,” itulah deretan judul yang menghiasi pelbagai media masa di Indonesia. Judul-judul ini membuat saya miris ketika membacanya. Balita dan anak-anak yang merupakan cikal bakal kehidupan, harapan bangsa Indonesia untuk membangun negeri ini kelak, mengalami sebuah nasib yang sangat mengenaskan. Kasus gizi buruk ini ditemukan hampir di seluruh pelosok Indonesia, mulai dari daerah yang terpencil, hingga kota besar seperti Jakarta yang notabene merupakan pusat kehidupan bangsa Indonesia.

 

Saya sebagai generasi muda merasa sangat prihatin melihat kondisi anak-anak Indonesia saat ini. Mereka adalah anak-anak yang nantinya akan meneruskan perjuangan generasi sebelumnya untuk melanjutkan kepemimpinan dan perjalanan Negara Indonesia ke depannya. Mereka adalah tampuk kehidupan masa yang akan datang. Dua puluh hingga empat puluh tahun kedepan, saatnya mereka memimpin dan meneruskan perjuangan kita untuk membangun Indonesia tercinta. Tetapi, apakah mereka ada saat itu? Jika kondisi mereka saat ini saja tidak mendukung keberadaan mereka. Kehidupan dan kondisi kesehatan mereka yang jauh dari kata layak ini, seperti halnya gizi buruk, bisa mengancam kehidupan mereka. Siapakah yang nantinya akan meneruskan perjuangan dua atau tiga puluh tahun mendatang? Akankah tiba saatnya lost generation di Indonesia ?

 

Kasus gizi buruk di Indonesia menempati kasus terbanyak yang dijumpai. Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi, tahun 2002/2003 terdapat 35 bayi yang meninggal di antara 1000 bayi yang dilahirkan yaitu sekitar 3,5% bayi meninggal, jika dihitung per hari ada 430 kematian bayi di Indonesia; terdapat kematian balita sebanyak 46 balita diantara 1000 balita yang lahir, jika dihitung per hari ada 566 kematian balita di Indonesia; Pada tahun 2005 jumlah anak kurang gizi sekitar 5 juta dan anak gizi buruk sekitar 1,5 juta, dan 150.000 anak menderita gizi buruk tingkat berat (marasmus-kwasiorkor). Selama periode bulan januari-maret 2008, Yayasan Pemantau Hak Anak (YPHA) juga telah mencatat 6454 kasus gizi buruk di beberapa wilayah Indonesia, diantaranya adalah Bone, Semarang, Kalimantan Tengah, Rote-Ndao (Flores NTT), Pinrang (Sulawesi Selatan), Jember, Bekasi, Trenggalek, Temanggung, Aceh, Surabaya, Tegal, Purworejo, dan Medan. Ini merupakan jumlah yang tidak sedikit. Pada tanggal 12 Desember 2008, ketua komisi IX DPR RI memberikan data di sebuah Koran online di Indonesia bahwa ada sekitar tiga puluh juta anak Indonesia menderita gizi buruk dari total anak Indonesia yang berjumlah 110 juta. Ini berarti 30% anak Indonesia telah menderita gizi buruk. Belum lagi masih begitu banyak kasus-kasus yang mengancam kehidupan anak Indonesia lainnya, seperti penyakit karena infeksi, kekerasan pada anak, bencana alam, semuanya itu dapat mengancam kehidupan anak Indonesia ke depannya. Gizi buruk sendiri sudah menjera 30% anak Indonesia dan dapat menyebabkan kematian pada anak.  Kalau pemerintah tidak juga menaikkan Anggaran dana untuk kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, maka nasib anak Indonesia pun akan sulit untuk diubah.

 

Gizi buruk yang terjadi di Indonesia salah satunya disebabkan karena tingkat kemiskinan di Indonesia, sehingga pemenuhan gizi seimbang dan mencukupi pun sangat sulit untuk dipenuhi. Kemiskinan yang menjera sebagian besar penduduk Indonesia pun menjadi kendala bagi orang tua untuk membawa anaknya ke pusat kesehatan yang ada walaupun anaknya sudah ada tanda-tanda sakit atau mengalami gizi buruk. Faktor lain yang menyebabkan hal ini adalah tingkat pendidikan orang tua yang rendah, sehingga mereka tidak mengetahui masalah gizi buruk yang menimpa anak-anak mereka. Sebagian besar orang tua tidak memahami bagaimana pemenuhan gizi anak yang benar, sehingga mereka hanya memberikan makanan yang mampu dibeli tanpa melihat tingkat kebutuhan nutrisi bagi anak di usia pertumbuhan dan perkembangan. Pendidikan orang tua yang rendah pun mengakibatkan minimnya ilmu yang mereka peroleh tentang perkembangan anak maupun kondisi fisik anaknya. Ketidaktahuan mereka akan gejala-gejala penyakit dan gizi buruk pada anak mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan dan pengobatan.

 

Di samping itu, faktor lingkungan dan budaya pun mengambil peranan dalam masalah ini. Budaya menonton televisi telah menjamur di Indonesia. Sebagian besar anak-anak menganggap bahwa televisi merupakan kebutuhan utamanya. Mata mereka terpaku terus-menerus, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hanya di depan televisi. Semua acara mereka tonton, terutama iklan-iklan yang akan selalu disiarkan di setiap jeda suatu acara televisi. Iklan-iklan ini banyak sekali mempertontonkan aneka jenis jajanan anak-anak yang dikemas sangat sempurna. Dari segi bahasanya yang sangat persuasive hingga  gambar-gambar yang menarik, bahkan diiming-iming oleh hadiah, membuat anak-anak tergoda untuk mencicipinya. Belum lagi aneka jenis jajanan anak ini terjejer dan tergatung rapih di kios-kios pasar. Kondisi ini akan menarik perhatian anak-anak ketika mengikuti orang tuanya ke pasar. Awalnya mereka meminta agar orang tuanya membelikan mereka, jika orang tua menolak, mereka akan megeluarkan jurus merengeknya, sehingga orang tua pun merasa tidak tega dan akan membelikannya. Akhirnya, seiring dengan waktu, anak-anak terbiasa untuk memakan jajanan tersebut. Hal ini mengakibatkan anak cenderung lebih menyukai makanan kecil tersebut  dibandingkan masakan ibunya yang lebih sehat dan lebih bergizi. Kepraktisan yang dialami orangtua dengan memberikan makanan olahan pabrik ini pun membuat para orang tua lebih memilih untuk membelikan anak mereka. Selain itu, budaya Indonesia yang mulai menggeser ke arah budaya Barat telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat Inodnesia. Saat ini, gaya hidup ala orang barat lebih digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya dalam hal makanan, dimana fast food yang berasal dari negara barat lebih digemari dan telah menjadi trend makanan masyarakat sekarang. Padahal fast food sendiri merupakan makanan olahan yang tidak sehat. Tidak sedikit pula, fast food yang tidak melabelkan komposisinya sehingga tidak diketahui nutrisi yang terkandung di dalamnya. Rasanya yang enak cenderung membuat anak menjadi suka dan lebih menggemari makanan seperti ini dibandingkan makanan olahan rumah yang lebih sehat dan bergizi.

 

Budaya memberi Air Susu Ibu (ASI) yang rendah saat ini pun menjadi kendala bagi pemenuhan gizi bagi anak. Ibu-ibu sekarang merasa lebih terhormat jika membelikan anaknya susu formula. Harga susu formula yang mahal membuat mereka bangga ketika membelikan anak-anak mereka susu formula. Mereka bangga bisa disebut sebagai orang kaya yang mampu membeli susu formula dengan harga yang mahal, padahal kandungan yang ada tidaklah sebaik ASI. ASI merupakan susu yang paling sempurna untuk anak hingga usia dua tahun. Bahkan sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan dianjurkan untuk pemberian ASI Klaustrum saat pertama kali ASI keluar. ASI ini sanagt baik, selain kandungannya yang mudah dicerna oleh bayi, dalam ASI ini terkandung banyak antibodi yang baik untuk kekebalan tubuh bayi. Kandungannya yang mampu diserap oleh tubuh bayi mencegah bayi mengalami diare. Dengan tercegahnya bayi dari diare maka tercegah pula bayi dari dehidrasi dan kematian akibat kurang gizi. Manfaat ASI yang baik ini akhirnya tidak dapat dirasakan oleh bayi jika para ibu tidak bersedia untuk memberikan ASI pada anak-anak mereka.

 

Sunggguh sebuah dilema, dimana ketika masyarakat yang tidak mampu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi anak-anaknya maupun diri sendiri, tapi di sisi lain orang-orang kaya menghambur-hamburkan uangnya dengan membeli makanan bagi anak-anaknya dengan harga mahal tapi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang mereka. Kemudian, di sisi lain, seorang ibu mampu meninggalkan anaknya demi bekerja, padahal anak butuh kasih sayang dan perhatian mereka. Kesibukan mereka mampu mengalahkan kepentingan anaknya sampai mereka enggan untuk memberi ASI kepada anaknya hanya karena alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Ini membuat hak anak untuk mendapatkan ASI pun hilang. Hahl ini mengakibatkan anak pun menjadi kekurangan nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

 

Di sisi lain, masalah pun datang dari pemerintahan dimana masalah tidak diselesaikan dengan sebaik mungkin dan hambatan tidak segera diatasi. Manajement kesehatan Indonesia mengambil peran dalam masalah yang sangat pelik ini. Masalah yang sebenarnya telah hampir dapat teratasi dengan baik hingga tahun 2000, dimana kasus gizi buruk telah menurun menjadi 24,6%, jika dibandingkan dengan sebelumnya pada tahun 1989 kasus gizi buruk sebesar 37,5%. Hal ini dikarenakan berfungsinya posyandu dengan baik. Adanya Posyandu sebenarnya sangat membantu dalam mengatasi masalah gizi buruk di Indonesia ini. Kenyataannya kasus gizi buruk meningkat kembali di tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2005 dijumpai 29% kasus gizi buruk. Peningkatan kembali kasus gizi buruk ini diikuti dengan peran posyandu yang perlahan mulai hilang, tinggal 40% dari kurang lebih 250.000 posyandu yang masih aktif saat ini. Perlu pembenahan manajement kesehatan kembali agar lebih baik dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Data lain mengatakan bahwa Dari segi biaya kesehatan, minimnya anggaran kesehatan menyebabkan masyarakat miskin hanya bisa pasrah apabila sakit, rasanya enggan untuk pergi ke dokter atau rumah sakit, biaya untuk makan saja sangat sulit untuk dipenuhi, apalagi harus pergi berobat yang artinya mereka harus mengeluarkan uang yang besar sekali, bahkan lebih besar dari biaya makan mereka. Anak-anak pun menjadi tumbalnya, mereka yang masih relatif rentan dan belum baik sistem pertahanan tubuhnya ditambah lagi dengan pemenuhan nutrisi yang sangat minim, akan mudah terserang suatu penyakit. Pertolongan yang telat pada anak pun akhirnya bisa mengakibatkan kematian.

 

Kondisi ini seharusnya tidak akan terjadi bila tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sudah baik. Anak-anak selayaknya mendapat perhatian yang cukup terutama dalam pemenuhan gizinya, sehingga diharapkan dengan nutrisi yang baik akan menciptakan anak-anak dengan kualitas prima untuk dapat melanjutkan kehidupan bangsa ini. Para orang tua yang secara fisik maupun psikis merupakan orang yang paling dekat dengan anak sangat diperlukan peranannya dalam menjaga dan memberikan perhatian lebih. Apabila Indonesia ingin menjadi Negara yang maju, maka anak-anaknya pun harus maju dan sehat. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah dapat segera menyelesaikan pekerjaan rumah dalam pengentasan kemiskinan juga dalam  meningkatkan anggaran untuk kesehatan anak-anak di Indonesia. Selain pemerintah, peran lingkungan masyarakat mutlak diperlukan, terutama praktisi kesehatan. Pemberian penyuluhan dan pendidikan akan pentingnya gizi untuk anak-anak setidaknya dapat membuka pengetahuan orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam memantau perkembangan anak. Pemenuhan gizi seimbang dan pola asuh yang baik harus diterapkan oleh para orang tua. Komunikasi Informasi dan Edukasi akan gizi anak yang baik harus disosialisasikan ke masyarakat luas agar masyarakat yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan bisa menerapkannya di kehidupan. Pemberian makanan sesuai standar gizi di usia pertumbuhan dan perkembangan anak jika perlu digalakkan besar-besaran untuk keluarga yang tidak mampu. Anggaran untuk pendidikan pun sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin agar seluruh anak-anak Indonesia yang tidak mampu, bisa tetap mengenyam pendidikan. Bukan hanya wajib belajar sembilan tahun lagi, tetapi diharapkan dapat menjadi wajib belajar dua belas tahun, sehingga dalam beberapa dasawarsa kedepan anak Indonesia semuanya terpelajar. Bila semua upaya tersebut dapat direalisasikan, maka saya optimis, anak-anak Indonesia menjadi anak yang sehat, pandai dan sejahtera serta mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih berkualitas. Marilah kita perbaiki hidup anak-anak Indonesia untuk kehidupan bangsa Indonesia yang akan datang menjadi lebih baik.

Wednesday, May 27, 2009

Pengobatan Massal: Memecahkan atau Menambah Masalah?

Bismillah..

Hm..pengobatan  masal merupakan aksi yang sering sekali digala oleh mahasiswa-mahasiswa kedokteran, untuk acara amal, bakti sosial, bahkan program dari suatu lembaga, dsb. Maksudnya baik menolong orang-orang yang tidak mampu dengan memberi kesempatan berobat murah bahkan gratis. Jarang-jarang saya mengikutinya, bukan karena apa-apa, tapi karena kesempatan yang datang pada saya sedikit. Hehe.. atau mungkin sayanya saja yang jarang menjemput kesempatan itu..

Ups..melenceng dari bahasan neh.. sebenernya bukan mu ngebahas seberapa sering saya ikutan pengobatan massal, tapi lebih ke konten dari pengobatan massal itu sendiri.

 

Saat-saat yang jarang itu saya manfaatkan untuk belajar berinteraksi  langsung dengan pasien dan juga belajar  banyak hal lainnya untuk bekla dikemudian hari. Biasanya seorang mahasiswa dalam pengobatan massal itu membantu di pendaftaran, vital sign(pemeriksaan yang penting menyangkut fungsi vital, seperti tensi, berat badan, suhu, nadi, pernafasan, dll), dan juga mengurusi peresepan atau sebagai apotekernya disini. Itulah kesempatan untuk bisa lebih mepraktekan ilmu-ilmu dasar yang kita punya, seperti menensi, semakin sering kita menensi akan semakin baik dan bisa menambah kepekaan kita dalam mendengar kemudian menentukan tekanan darah seseorang. Kemudian berada di bagian pendaftaran akan melatih seorang mahasiswa kedokteran untuk berkomunikasi dengan baik pada pasien karena komuniasi akan sangat diperlukan bagi seorang dokter kemudian, jika kita tidak mengomunikasikan semuanya kepada pasien kita, salah-salah mereka bisa menuntut dengan enaknya. Selain itu, kita pun bisa melatih diri untuk berinteraksi dengan orang, merasakan penderitaan mereka, berbahasa dengan bahasa mereka, dan memberikan empati dengan baik. Seseorang jika dihormati dan dihargai pasti akan kembali menghormati dan mengahargai kita. Hal ini penting untuk menimbulkan kepercayaan diantara dokter dan pasien. Jika kepercayaan itu timbul, maka pasien akan lebih cepat sembuh dan akan ringan dalam menaati aturan yang diberikan dokter.

 

Banyak sekali yang bisa kita (mahasiswa kedokteran) pelajari dari sebuah pengobatan massal. Selain itu, ada diposisi perobatan yaitu memberikan obat sesuai dengan resep yang telah diberikan, memang ini tugas seorang apoteker, tapi dokterlah yang meresepkan, sehingga seorang dokter pun harus tau tentang obat. Disini kita bisa melatih diri untuk lebih mengenal obat dan juga kita bisa belajar bagaimana dokter itu meresepkan obat pada pasiennya. Penyakit x diberi obat ini, penyakit y diberi obat itu, dsb. Selain itu, juga bisa berlatih untuk melihat cara penulisan resep yang benar dengan aturan-aturannya yang berbeda-beda. Yups begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengobatan massal ini.

 

Tapi..

Tidak hanya sebatas itu, ketika kita melihat secara baik-baik, pengobatan massal yang dilakukan untuk sebuah kerja sosial dalam rangka bakti sosial  atau apapun itu dimana dilakukan massal, pasiennya banyak, waktu dan sarana sedikit, bisa menjadi suatu dilema. Bayangkan ketika yang melakukan vital sign-menentukan tanda-tanda vital pada pasien, umumnya menensi atau mengukur tekanan darah pasien-kita lihat yang melakukan bisa saja mahaswiswa yang baru berpengalaman dan jam terjunnya belum lama, belum lagi tensimeter yang digunakan hanay sebuah tensimeter biasa dengan merek biasa, bukan sebuah tensimeter yang peka seperti merek litman, sehingga kesulitan dalam mendengar pun menjadi hambatan. Diulang-ulang terus tetap saja tidak terdengar, akhirnya hanya bisa berspekulasi dengan teknik kiro-kiro yang menjadi andalan. Bukan apa-apa, tapi mungkin karena tidak enak dengan pasien yang sudah menunggu lama dengan harap-harap cemas, tapi hasil tak kunjung tiba,  akhirnya cara ini dipilih. Yah..ini memang mental kerdil saudara-saudara. Padahal tensi ini penting, bisa menjadi arahan dokter dalam mendiagnosis dan memberi obat. Kalau saja kita salah mendengar, harusnya tekanan darahnya rendah, lalu kita tulisnya tinggi, ditambah pasien mengekuh pusing-pusing, bisa-bisa pasien ini diberi obat-obat antihipertens ayng dapat melemahkan kerja jantung, padahal dia lemas karena tekanannya rendah, tubuhnya sebenarnya menbutuhkan darah banyak, tetapi malah diberi obat yang dapat mengahambat penerimaan darah. Jadi aja pasien bisa tambah lemas dengan obat itu. Itu hanya salah satu contoh dari kesalahan mengukur tensi.

 

Kemudian, banyaknya pasien yang datang, tapi waktu dan tenaga yang relatif sedikit mengakibatkan pelayanan yang diberikan menjadi tidak maksimal dan lebih terkesan seadanya. Pasien melontarkan keluhan, lalu dokter menanggapi sedikit dan secepat kilat untuk menuliskan resep. Itulah yang saya tangkap, walau sebenarnya mungkin mereka tidak mau berbuat seperti itu, tapi mungkin mereka anggap cukup dengan mendiagnosis rata-rata hanya 5menitan. Wow..padahal baiknya bertatapan dengan pasien itu setidaknya membutuhkan waktu 15 menit, agar dapat tersampaikan dengan baik semua keluhan pasien itu. Akhirnya dokter lebih cenderung untuk menghilangkan atau mengobati gejalanya saja dibandingkan dengan mengobati penyebabnya. Padahal kita ketahui bahwa mengobati yang baik adalah obati kausanya bukan gejalanya. Ada keluhan pusing, maka bukan pusingnya yang diobati, tapi kenapa orang ini pusing? lalu sembuhkanlah penyebab dari kepusingannya ini. Kalau sudah mendesak dan gejalanya benar-benar mengganggu, baru obati gejalanya ini. Itu yang saya dapatkan dari dosen farmakologi. Agak miris memang melihatnya. Kemudiian, kepadatan pasien tapi waktu tatap muka yang seadanya dengan pasien, mengakibatkan pemberian obat yang tidak disesuai dengan masing-masing pasiennya, dimana sesuai dengan kaidah farmakokinetiknya. Harusnya tiap individu akan mendapatkan pengobatan yang berbeda-beda walau penyakitnya sama, karena fungsi tubuh dalam tiap individu itu akan berbeda-beda. Tapi disini masalah itu dikesampingkan. Di sini lebih melihat keadaan orang pada umumnya dalam keadaan norma.

 

Kemudian dalam masalah obat lainnya, yang saya lihat di sini adalah masalah higien dari obat. Rata-rata obat yang diberikan merupakan obat generik yang biasanya berbotol-botol. Lalu diambil satu-satu sesuai dengan dosis yang diresepkan oleh dokternya menggunakn sendok. Belum lagi, obat-obat tersebut nggak tau dari jaman kapan. Walaupun belum kadaluarsa, tapi tetap saja sudah terbuka dan tersimpan lama. Belum lagi, karena..lagi-lagi karena waktu, akhirnya sering sekali obat-obat tersebut dibiarkan terbuka begitu saja setelah selesai diambil. Saya membayangkan ada banyak kuman yang sudah hinggap di sana. Belum lagi masalah puyer. Yap, masalah yang telah menggemparkan Indonesia beberapa waktu yang lalu, tentang polemik puyer. Yang saya ketahui, puyer itu bukan merupakan suatu masalah jika penggunaannya benar. Puyer merupakan suatu bentuk obat dimana diperuntukan untuk anak yang tidak dapat meminum tablet. Puyer yang baik itu yang benar-benar puyer paten dimana emang sudah ditakar dengan baik, menggunakan alat pembuat yang steril, pembagian harus tepat dengan dosis yang telah diperhitungkan dengan tepat, dan pengemasannya pun mesti steril. Tapi itu jatuhnya akan lebih mahal dibandingkan dengan obat tablet pada umumnya. Oleh karena itu, puyer yang ada umumnya, terutama dalam pengobatan yang dilakukan secara massal ini, dimana sarana, biaya dan waktu yang tersedia terbatas, hanyalah puyer seadanya puyer. Obat-obat yang sudah dalam bentuk tablet yang diresepkan dicampur, kemudian diulek menggunakan alat khusus untuk menggerus (baca: ulekan) hingga halus, lalu dibagi-bagi sesuai dengan resep, semua itu benar-benar tidak mengikuti kaidah dengan baik. Dimana sajakah salahnya? Satu, ulekan yang digunakan tidak jelas kesterilannya. Dalam satu kali pengobatan massal pasti menggunakan cawan yang sama tanpa dicuci terlebih dahulu, bisa-bisa bekas obat yang sebelumnya akan tercampur dengan komposisi obat yang sekarang. Dua, obat yang digunakan bukan merupakan obat murni, melainkan menggunakan obat yang sudah dalam bentuk tablet dimana sudah tercampur dengan bahan-bahan lain, sehingga dikhawatirkan akan adanya interaksi dengan obat lainnya. Tiga, pembagian yang dilakukan juga tidak sesuai dengan aturan, hanya menggunakan feeling, kalau feelingnya baik, maka akan terbagi dengan rata, tapi kalo feeling ternyata lagi jelek, bisa-bisa kemasan yang satu dosisnya 200mg, yang satunya lagi cuma 50mg, bahaya kalau gitu jadinya. Empat, pembungkus yang digunakan juga ditanyakan soal kesterilannya, belum lagi tempat yang seadanya sehingga tempat meletakkan pembungkusnya pun ditanyakan kesterilannya. Jika ternyata memang benar tidak steril dan daya tahan tubuh anak, ini malahan bisa membuat anak menjadi tambah sakit dengan puyer tersebut, bukan malah tambah sembuh.

 

Sebatas itu yang bisa saya amati, walaupun sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diamati. Mungkin ini tidak terjadi pada setiap pengobatan massal yang ada, tapi minimal kenyataan ini terjadi pada pengobatan massal yang pernah saya ikuti. Jika saya ambil kesimpulan, ini bukan salah dari wadah yang namanya pengobatan massal. Karena menurut saya pengobatan massal merupakan suatu wadah yang memberikan kesempatan bagi masyarakat khususnya masyarakat yang tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis. Yang salah disini adalah caranya sehingga pemberian pelayanan yang diberikan hanya seadanya, sebatas masyarakat mendapatkan obat, kemudian pulang, selanjutnya apa yang terjadi bukan urusan kami lagi. Ckckck.. Seharusnya walaupun pengobatan massal tapi tetap efektif untuk memberikan pelayanan yang terbaik dari petugas kesehatan kepada masyarakat.

Wallahu a’lam.

Wednesday, May 6, 2009

DO’A SANG NELAYAN

Di waktu pagi di hari Minggu di Pantai Marina, Semarang.

Saya melihat begitu banyak aktifitas yang dilakukan di pantai ini, pantai yang notabenenya merupakan salah satu objek wisata di Semarang.  Dijumpai orang-orang yang asyik olah raga jalan pagi, bahkan ada sekelompok ibu-ibu yang melakukan senam di sini. Ada pula keluarga yang asik bersenang-senang dengan anak-anaknya, bahkan ada pula yang melakukan maksiat di sini, berduaan dengan orang yang mereka bilang kekasih tercinta, padahal mereka telah berzina dengan itu.

 

Saya bersama teman saya hanya bisa miris dan agak tidak nyaman berada di tempat ini, ditambah lagi tempatnya kotor dan tak terawat. Jujur, ini kali pertama saya ke pantai ini. Sedikit kecewa dengan pertemuan pertama saya dengan pantai Marina. Pasir pantai yang saya bayangkan pun ternyata tidak ditemukan di sini. Penuhnya pantai ini membuat kami merasa tidak punya space untuk bisa menikmati ciptaan Allah ini. Kami bingung mau ngapain. Tujuan awal untuk berolah raga pagi, enggan kami lakukan lagi. Kami hanya muter2 dengan motor mengitari kawasan ini, tidak jelas memang. Di salah satu sisi pantai yang agak sepi namun sayangnya lebih kotor, akhirnya kami memutuskan untuk turun, kami tetap ingin menikmati indahnya ciptaanNya ini. Hm...menarik napas sedalam-dalamnya...menghirup segarnya udara pagi dan amisnya udara laut. Tak sengaja saya menatap pada satu sosok yang sangat menarik hati, telihat seorang nelayan penjaring ikan sedang asik mencari tangkapannya. Wah, si bapa berhasil menangkap ikan-ikan itu. Ikan yang kelak akan dijual dan hasilnya akan ia berikan pada keluarganya. Sungguh hebat perjuanganmu, pak! Bekerja keras membanting tulang di pantai ini, sementara di sisi lain orang-orang berdatangan ke pantai hanya sekedar untuk berekreasi bahkan berbuat maksiat di hari libur ini. Tak mengapa pak, sesungguhnya kerja kerasmu ini akan berbuah rekreasi yang lebih indah jika engkau laksanankan dengan ikhlas, yaitu surga Allah kelak, amin..

Semakin jauh mata memandang, perahu-perahu nelayan menampakkan dirinya terombang-ambing di laut yang tenang. Banyak ternyata orang-orang yang bekerja keras di pantai ini. Mereka dengan susah payah bekerja becucuran keringat untuk  mendapatkan uang. Tak hanya uang yang kau cari tapi ridho Allah dan kebahagiaan keluarga pun menjadi tujuanmu. Begitu besar risiko yang kau dapatkan, pak, tapi engkau tetap terus menekuninya hanya untuk membahagiakan hati keluargamu. Padahal jika engkau tahu, menjadi nelayan itu berati menjerumuskan dirimu untuk terkena kanker kulit, sebagaimana kita ketahui engkau selalu terpapar sinar matahari yang terik tanpa pelindung apapun, sinar UV dari matahari itu bisa menjadi zat carcinogen untuk kulitmu, pak. Mengayun-ayun dan terombang ambing di lautan, itu pun sangat berisiko untuk tenggelam dan terhempas kerasnya ombak di lautan. (jadi ingat ayahnya lintang yang hilang ketika berlayar untuk bekerja). Angin laut yang sangat kencang membuat tubuhmu rentan untuk masuk angin, penyakit rakyat yang sudah umum, tapi patofisiologinya tidak jelas. Beberapa penelitian pun mengatakan bahwa engkau rentan terkena katarak karena paparan UV itu. Semua itu bisa kau lawan, pak. Hanya do’a-do’a yang tak henti-hentinya engkau lantunkan di setiap sujudmu , seusai solatmu, diantara suara azan dan iqomah, ba’da ashar hari jum’at, dan di setiap penghujung malammu dimana semua orang asik dengan tidurnya, yang dapat menolongmu dari bencana itu semua.

“ya Allah segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang telah Engkau lapangkan dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau tahan, tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada orang yang telah Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang telah Engkau beri petunjuk, tidak ada yang dapat memberikan apa yang telah Engkau cegah, dan tidak ada yang dapat mendekatkan apa ayng telah Engkau jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang telah Engkau dekatkan. Ya Allah lapangkanlah keberkahan, rahmat, karunia, dan rizki-Mu kepada kami. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan abadi yang tidak berubah dan tidak pula lenyap. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada hari kesengsaraan, dan keamanan pada hari ketakutan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan kejelekan dari apa yang telah Engkau cegah kepada kami. Ya Allah, jadikanlah kami cinta terhadap keimanan, jadikanlah ia hiasan dalam hati kami dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan, serta jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Ya Allah wafatkanlah dan hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam hal tidak terhina dan tidak pula terfitnah. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan Rasul-rasul-Mu dan menghadang jalan-Mu dan timpakanlah siksaan dan azab kepada mereka. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang telah diberi  Alkitab, ilah yang Maha benar. Aamiin” (HR. Ahmad)

 

Keluh kesah pun tak pernah keluar dari bibirmu, karena engkau percaya akan ada balasan yang lebih baik dari Allah. Engkau hanya bisa berusaha bekerja dengan seikhlas mungkin. Hanya do’a-do’a Yang engkau panjatkan yang keluar dari bibirmu itu, pak

” Ya Allah, jadikanlah aku merasa Qana’ah  (merasa cukup, puas, dan rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan pasaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. AlHakim I/510 dan dishahihkan serta disepakati oleh adzDzahabi dari Ibnu ‘Abbas)

 

Bahagiamu adalah melihat orang-orang sehat dengan tangkapanmu itu. Ketahuilah, pak, bahwasannya tangkapan yang engkau peroleh ini sangatlah menyehatkan dan bergizi. Ikan merupakan sumber protein yang tinggi, bagus untuk perkembangan otak kita. Protein juga dibutuhkan untuk regenerasi dari sel-sel tubuh kita. Kandungan yodium yang tinggi pun diperlukan untuk mencegah penyakit gondok, kerennya disebut goiter atau struma tiroid. Karena tangkapanmu itu, anak Indonesia dapat tumbuh sehat dengan sempurna. Begitu besar pahalmu, pak. Semoga Allah memberimu posisi yang terbaik dan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Aamiin..

Friday, May 1, 2009

Kisah Dibalik Pisang

Cerita ini berawal dari kisah perjalanan saya dalam melaksanakan tugas siang kemarin. Jadi, ceritanya saya bersama seorang teman pergi ke pleburan untuk menransfer uang yang akan dipergunakan untuk keperluan pendelegasian. Kemudian ketika pulang, kami harus berjalan terlebih dahulu untuk mengakses angkot yang menuju ke tempat tinggal kami, yaitu kawasan kariadi. Saat kami berjalan di trotoar,kalo emang bisa saya sebut itu sebagai trotoar, karena hanya berupa bahu jalan yang sempit saja, saya melihat sesosok orang tua renta dengan dua buah bakul jualannya  sedang rehat sebentar. Tak sengaja mata saya menjurus ke arah bakul jualannya, ternyata berisi PISANG!! Waw like it! Hati saya spontan euforia melihatnya, ditambah lagi dengan perut kosong yang dari pagi hanya saya isi dengan sebuah arem-arem + gorengan yang saya beli dikampus usai ujian jiwa.
Secara spontan saraf sensorik dari mata saya meneruskan impulsnya ke otak, lalu otak saya dengan cepatnya memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk berhenti dan membelinya.(Sebuah kerja otak yang Subhanallah)

terlihat begitu banyak pisang yang dijualnya, tapi hanya satu genus pisang yang dijual, he..kalau itu bisa dibilang genus.., yaitu pisang raja dengan dua spesies yang berbeda..ada raja palembang dan ada raja susu.. dua2nya pisang favorit saya. saya pilih yang pisang raja susu karena harganya yang relatif lebih murah. Ketika saya tanya harganya, bapak2 itu langsung berkata, "saya kasih 5000 saja buat mbanya" Hm..ntah itu emang harga normal atau tidak saya tidak tahu, yang pasti yang saya tahu itu harga yang murah untuk sesisir pisang yang gendut-gendut dan banyak buahnya. ketika saya mengantar ibu ke pasar untuk beli pisang, biasanya sulit sekali untuk mendapatkan pisang seharga 5000.
Jadi, waktu aku mendengarnya aku langsung percaya! muka bapaknya yang memancarkan keramahan dan kesejukan pun membuat saya terhipnotis untuk segera membelinya..

Ketahuilah teman pisang ini sangatlah sehat. Pisang sangat kaya akan gizi yang penting untuk kesehatan kita, diantaranya 99 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 25,8 mg, serat 0,7 gram, kalsium 8 mg, fosfor 28 mg, besi 0,5 mg, vitamin A 44 RE, vitamin B 0,08 mg, vitamin C 3 mg dan air 72 gram. selain itu juga pisang mengandung mikronutrient lainnya, yaitu 1 mg kalsium, 35 mg fosfor, 1 mg zat besi, 503 mg potassium, dsb. banyak kan?

Kandungan gizi yang terkandung itu bisa bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Misalnya saja, kalorinya yang tinggi dapat melengkapi kebutuhan kalori kita per harinya. Buah pisang ini dapat dengan mudah dicerna dalam usus karena pisang ini mengandung monosakarida dan disakarida (sukrosa, fruktosa, dan glukosa) membuat pisang bisa langsung diserap dengan cepat tanpa harus melewati pemecahan karbohidrat polisakarida yang panjang dan lama. Gula-gula yang terkandungan dalam buah tersebut dapat diubah menjadi sumber tenaga secara cepat, dimana tenaga ini dibutuhkan untuk proses pembentukan tubuh, kerja otot, dan aktivitas sehari2.

vitaminnya juga sangat baik untuk kesehatan, seperti misalnya vitamin A yang baik untuk kesehatan mata kita dapat mencegah terjadinya buta senja, atau bahasa kerennya nictalopia. Lalu vitamin B nya juga baik untuk pertumbuhan otak kita, dengan asupan vitamin B6 ynag baik bisa mencegah kita terkena demensia, atau awamnya merupakan penyakit yang mengakibatkan turunnya kesadaran kita, juga menurunnya fungsi kualitas hidup kita. Kandungan pottasiumnya sangat berperan dalam mencegah penyakit jantung, pottasium yang tinggi ini diperlukan untuk menurunkan tekanan darah kita, jadi cocok untuk penderita yang hipertensi dan mencegah terjadinya stroke.

Itu hanya beberapa manfaat yang ada dari buah pisang. Ketahuilah masih banyak manfaat yang bisa dipetik dari buah ini. Telah kita ketahui bahwa tidak ada satu pun hasil ciptaan Allah yang tidak berguna dan bermanfat bagi manusia. Seperti telah dijelaskan dalam ayatNya, artinya:
"Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak, berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), tetapi tidak sama(rasannya) Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah,dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnnya);dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (Al An'am: 141)

Subhanallah begitu besar ciptaanNya itu. Dia telah memberikan lengkap apa-apanya di dunia ini, untuk kita semua hambanya, tak kurang satu pun. Tapi, "nikmat Tuhanmu yang manakah yang kita dustakan?" Astaghfirullah..

wallahua'lam